#Cerpen: Sarung Untuk Diana

Sarung untuk Diana

oleh: Prinnisa A. Jonardi

 

Lelaki berkacamata mencari sosok Diana, di kaca jendela bus yang membayang. Bayangan sederhana berisi dirinya yang terpantul cahaya lampu baca di dalam bus. Lelaki berkacamata pun menyerah. Mungkin memang sudah tak ada.

Lelaki itu lalu mendengus kecil. Kesal entah kepada siapa. Mungkin kepada Diana. Mungkin pula kepada suara takbir yang bersahut dari pengeras suara masjid yang mengganggu mimpinya.  Atau bisa jadi kepada supir bus yang memilih untuk berhenti di masjid, dan bukannya melanjutkan perjalanan. Lelaki berkacamata sebenarnya tak peduli.

Lelaki itu pun mencoba kembali tidur. Namun, tanpa sadar, matanya masih betah menelisik bayangan buram di sampingnya. Mencari sosok yang sama. Diana. Yang sekarang  pergi entah kemana.

—||—

Dua hari sebelumnya….

Diantara kepulan asap metromini yang tak pernah ikut uji emisi dan debu-debu pengikutnya, saya terduduk nanar menatap jalanan. Sesekali orang yang berlalu lalang menatap saya dengan berbagai bentuk ekspresi mata. Lucu, menghina dan yang paling parah… menelanjangi. Mata-mata itu akan langsung berubah takut atau sebal seketika ketika saya balas melotot, lalu diikuti kaki-kaki mereka yang melangkah pergi lebih cepat, bahkan terkadang berlari. Apalagi bila saya mengangkat sepatu saya tinggi-tinggi. Lucu, bagaimana orang-orang takut dilempar sepatu. Sepatu hak tinggi.

Suara adzan maghrib mengalun dari kejauhan. Suaranya yang menyayat-nyayat hati memanggil orang untuk datang ke sumber suaranya. Memohon dan meminta ampun akan dosa. Tapi tidak dengan saya. Belum. Belum sekarang.

 semi-abstract-textile-art-its-raining-men

“Jak, kamu teh engga sembahyang?” Dayat tiba-tiba sudah berdiri di samping saya. Mengagetkan. Saya mendongak untuk melihat wajahnya. Sudah rapi lengkap dengan sarung yang terselempang di bahunya. Tidak ada make-up. Hanya mascara waterproof-nya yang masih menempel bagai tak tersentuh air..

“Entar… tanggung,” Saya menjawab sekenanya

“Tanggung apa, iyeu? Orang sepi begini… Mau tanggung apa?” Saya memilih untuk tak bereaksi. Pura-pura tuli.

“Sudahlah… Allah itu engga pilih kasih sama hambaNya,” Kata Dayat setengah membujuk.

Hati saya tergerak sedikit mendengarnya. Dan entah refleks dari mana, saya memandangi celana pendek ketat saya yang berwarna oranye ngejreng. Mencoba mencari akal untuk menutupinya, entah untuk apa.

“Nanti saya pinjami sarung, mau?” Dayat seolah mengerti pikiran saya. “Di masjid juga ada… Sarung doang mah,”. Saya mengalihkan pandangan saya jauh-jauh. Enggan menanggapi.

“Jak, saya ini sama kayak kamu!” Dayat lalu mengambil duduk di sebelah saya. “Tinggal rapih-rapih dikit, enggak bakal ada yang engeh. Palingan mah bocah-bocah  aja yang sialan bakal goda-goda… Pak Ustadz di masjid juga sebenarnya tauk, tapi dia enggak pernah masalah kok. Katanya masjid adalah rumah bagi semua umat. Jadi, enggak ada alasan, Jak…” Lanjutnya masih membujuk.

“Ada…” Akhirnya saya buka suara. Mata Dayat mencari manik mata saya. Menunggu jawaban. “Sayanya yang enggak mau.” Saya lalu bangkit dari tempat saya duduk meninggalkan Dayat.

Si Dayat emang sudah hilang akal. Mana ada banci masuk masjid dan berdoa. Memang sudah gila dia. Dan lebih gilanya, sudah gila pakai ajak-ajak saya. Saya tahu Dayat tak pernah putus shalatnya meski dalam keadaan apapun. Dengan pakaian seperti apapun. Dengan tatapan orang-orang yang bagaimanapun. Tapi saya bukan dia. Saya belum bisa. Malahan, mungkin saya enggak mau.

Bukannya apa. Selain risih, kadang saya rasa Allah juga tidak adil. Saya bisa duduk di sini, sekarang, berkat ketidakadilan Allah. Saya siswa terbaik di kampung saya. Saya anak baik. Saya enggak pernah punya kelakuan aneh-aneh. Mencuri dari pohon tetangga aja enggak pernah. Padahal anak-anak di kampung saya, paling tidak, pernah sekali makan buah hasil manjat pohon orang. Dulu, semua orang di kampung kenal Jaka. Jaka anaknya Pak Rusydi yang jago matematika. Jaka yang tidak pernah lalai mengaji di mushola. Jaka anak idaman semua ibu-ibu di kampung.

Dan entah bagaimana ceritanya, si anak idaman semua ibu-ibu di kampung berubah jadi banci di ibukota. Iya kalau banci yang berkelas, ini banci kaleng yang mangkalnya di lampu merah. Yang lari kocar-kacir kalau lihat satpol PP. Yang kerjanya ngegodain laki-laki yang lewat.

Saya kira dulu nilai bagus, kelakuan bagus udah jadi modal yang kuat untuk pergi ke Jakarta dan bertahan di sini. Tapi sampai detik ini saya masih enggak tau mengaplikasikan nilai matematika saya yang dulu tak jauh-jauh dari sempurna di dalam kehidupan saya sekarang. Entah bagaimana aljabar akan membantu saya untuk lari dari kejaran satpol PP atau preman berbadan besar. Dan setelah saya coba, selain aljabar, ayat kursi juga tidak mempan mengusir mereka.

Dari kehidupan di jalanan saya belajar banyak. Salah satunya mengenai hubungan saya dengan Allah. Yang saya tahu, semakin banyak saya menyesap polusi ibukota semakin jauh saya dari Allah, semain tipis iman saya. Entah bagaimana udara jalanan Jakarta melakukannya. Kalau Al-Khawarizmi yang menemukan aljabar masih hidup, saya rasa dia juga enggak bisa menjelaskannya.

“SATPOL PP!!!” Tiba-tiba beberapa anak jalanan penjaja rokok lari tunggang langgang, mengumandangkan alarm peringatan melalui mulut mereka. Sudah menjadi ketentuan bahwa siapapun yang pertama melihat polisi, satpol PP atau petugas ‘pembersih jalanan’ wajib mengumandangkan alarm bahaya. Begitu ketentuannya. Tak ada yang pernah berkhianat dan pergi diam-diam tanpa membunyikan alarm. Lucu ya, bagaimana kami, para pelanggar aturan, bisa taat pada aturan yang kami buat sendiri.

Tak lama kemudian pedagang asongan, pengamen dan pria-pria bergincu penghuni lampu merah berhamburan tak tentu arah. Semua sigap menyelamatkan diri masing-masing dan barang dagangan, kalau ada. Tanpa disadari saya pun sudah berlari bersama sebagian dari mereka. Sepatu hak tinggi yang biasa dijadikan alat menakut-nakuti bocah tengik sudah terjinjing di tangan. Kaki saya otomatis berlari tanpa alas.

Di bawah jembatan, saya melihat ada tempat bersembunyi. Peduli pun saya tidak, pada kali bau masam yang mengalir dibawahnya. Saya yakin dengan pasti kali bagian itu cetek. Alasan pertama, itu kali tidak pernah dikeruk. Alasan kedua masalah uji empiris, sudah dua kali saya bersembunyi di sana. Dua kali-dua kalinya tidak tertangkap. Dengan perlahan, kaki saya cemplungkan ke kali. Terdengar kecipak-kecipuk kecil. Dinginnya air dan baunya yang tidak karu-karuan mulai menyeruak mengganggu saya. Tapi biar, sampai pagi saya akan bertahan di sini.

Dari kejauhan terdengar suara orang berlari-lari. Gila, Satpol PP itu niat juga mencari.  Saya sudah jauh berlari tetap saja mereka sampai ke sini. Ya mungkin sih, ini kan Bulan Ramadhan, pemberatasan mesti makin digiat. Apalagi nanti habis lebaran tikus-tikus jalanan macam kami makin banyak berkeliaran. Tak tahu saja mereka, kalau tanpa digiatkannya ‘pembersihan’ saja pendapatan kami sudah berkurang banyak. Orang-orang enggan memberi bencong uang, kalau bulan Ramadan. Bencong kan pendosa, begitu katanya. Akhirnya banyak dari kami yang beralih menjadi ‘tukang sapu’ musiman kalau Ramadan. Entah karena iklan di TV atau apa, tukang sapu jadi profesi yang perlu disedekahi di bulan Ramadan. Aneh.

Meski sedikit takut, saya mencoba mengintip. Saya menghela nafas lega. Tidak, mereka tidak akan menemukan saya. Mereka berdiri di depan masjid.

“DI SINI! DI SINI!” Seorang dari mereka menunjuk-nunjuk ke arah Masjid, mengkode yang lainnya agar mengikuti. “NGUMPET DI MASJID? DASAR BANCI GAK TAU DIRI!” Teriak salah satu yang lainnya. Tiba-tiba aku teringat Dayat. Dasar sinting! Benar saja, Dayat, dengan stocking yang baru terpasang setengah, diciduk dengan kasar. Pasti Dayat baru selesai shalat dan sedang berganti baju! Sinting!

1…2…3… Saya menghitung sudah tiga kali saya tertangkap Satpol PP. Kalau tertangkap sekali lagi, sudah barang pasti saya akan masuk bui. Tapi entah kebodohan dari mana saya keluar dari persembunyian saya dan berlari ke depan masjid, tempat Dayat sedang memohon-mohon minta belas kasihan sambil menyebut penderitaan anak-istrinya. Dengan sekali tojos saya membuat Satpol PP yang memegangi Dayat terjengkang tak berdaya. Dan Dayat lepas dari genggamannya.

“Lari!” Bentak saya pada Dayat yang masih menganga tak percaya. Dayat masih membeku ditempatnya

Saya sebut nama anak dan istrinya. Mendengar nama anak dan istrinya Dayat pun tersadar dan berlari. Dayat sempat menengok wajah saya untuk yang terakhir kalinya, dengan berbagai ekspresi wajah yang tak tergambarkan, sebelum akhirnya berlari pergi.

Setelah itu saya tak sadarkan diri. Berbagai makian dan pukulan ditujukan kepada saya berulang-ulang hingga saya tak sadarkan diri. Saya tak peduli. Saya akan masuk bui.

–||–

“Nama?” Kata polwan dihadapan saya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer.

“Diana, Bu…”

“Bukan! Nama asli!” Kini wajahnya terangkat Matanya lalu mengenali wajah saya. “Jaka! Kamu lagi kamu lagi…” Ujar seorang polwan tersebut. Samar-samar saya mengenali wajah si polwan, tapi namanya saya lupa. Dia polwan yang sama dengan yang menginterograsi saya dua minggu lalu. Tapi saya tidak begitu peduli, bonyok dan sakit di kepala saya habis digebuk tadi lebih meminta perhatian. Bagaimanapun, toh, saya tetap akan masuk bui.

“Udah tiga kali ya…” Kata si Bu Polwan mengingatkan. Saya lalu mengecek nametag di seragamnya, ternyata namanya Rita. Matanya mendelik ke arah saya, masih menunggu reaksi. Tapi dia tetap diam.

“Kok kamu pasrah sih? Enggak mau alasan-alasan dulu?” Tanyanya ganjil. Saya hanya punya diam, Bu. Teriak saya dalam hati. Semua alasan sudah saya jelaskan dua minggu lalu, Bu. Saya sudah tidak punya apa-apa sekarang.

“Masih kesal karena tidak bisa survive di Jakarta?” Saya setengah tak percaya dia masih ingat segala cerita saya dua minggu lalu. Dan gilanya saya benar-benar bercerita semuanya kepada si polwan ini dua minggu lalu. Sampai detail-detailnya.

“Sudah! Pulang sana!” Alis saya bertaut mendengar perintah Bu Rita.

“Saya… bebas, Bu?” Tanya saya tak percaya.

“Bukan, pulang kampung,”katanya meluruskan. Saya membuang muka. Memang tak mungkin dia melepas saya begitu saja. “KTP kamu bukan KTP Jakarta, kan?” Tanyanya retoris. Saya haya bisa menghela nafas. “Gini deh, pilihan kamu cuma dua Jak, pulang kampung… atau masuk penjara. Saya engga bisa ngasih pilihan lain. Habis lebaran jalanan makin ramai,” Katanya sambil kembali beralih ke komputer di hadapannya. Memberikan saya waktu untuk berpikir.

Pikiran saya menerawang jauh. Saya teringat lebaran tiga tahun yang lalu, saya bersikeras ingin ke Jakarta. Dengan segala kepercayaan diri saya yakin bisa berhasil di ibukota. Tapi baru kali itu Ayah saya menentang keinginan saya. Kata Ayah, Jakarta bukan tempat saya. Dan baru kali itu saya keluar rumah tanpa izin Ayah. Yang saya ingat, saya berjanji akan kembali dengan pembuktian berupa kesuksesan. Saya akan kembali dan membuktikan bahwa sekali lagi saya kan menjadi yang terbaik, dan Ayah saya salah.

Dari kejauhan terdengar suara takbir bersahut-sahutan. Benar kata si Ibu Polwan, pilihan saya hanya dua. Sebenarnya dua-duanya sama saja. Sama-sama penjara. Tapi rasa kangen saya pada Ayah yang membuatnya berbeda. Tanpa terasa air mata saya tak terbendung. Suara takbir terasa menyayat-nyayat hati. Memanggil umat untuk pulang ke rumahnya.

“Oke, besok saya antar kamu ke terminal, ya.” Kata Bu Polwan menyimpulkan. “Dan jangan kembali ke Jakarta kecuali kamu punya pekerjaan yang benar,”

–||–

“Mas, enggak ikutan shalat Ied?” Tanya seorang Bapak-Bapak membuyarkan lamunan Jaka, si pria berkacamata, dari dunia lamunannya. Kantuk yang tak kunjung datang malah berakhir membawa Jaka melamun ke sana ke mari.

Jaka menelan ludah.

“Ada sarung lebih, Pak?” Bapak tadi pun mengangguk lalu mengaduk-aduk tasnya mencari sesuatu lalu mengacungkannya kepada Jaka. Jaka pun mengambil sarung dari tangan si Bapak dan berjalan keluar bus menuju masjid.

Mungkin sudah saatnya Jaka meninggalkan sosok Diana, yang dulu melekat dengan dirinya, lalu pulang. Ke kampung halamannya. Dan ke rumah segala umat.

Cerpen ini ditulis oleh Prinnisa Almanda Jonardi @prinnisa, seorang mahasiswa Fakulas Kedokteran Universitas Indonesia yang lahir di Jakarta, 3 Desember 1994.

Iklan

#Cerpen: Titip

vitrase

 

TITIP

Ambu Dian

-o0o-

 

Sambil menumpukkan piring-piring kotor usai sahur dinihari, Asti melongok sedikit ke jendela. Jendela besar, tirainya sudah dibuka, tetapi masih dihalangi vitrase tipis, sehingga isi rumah tak jelas terlihat dari luar.

 

Ada keriuhan di rumah seberang. Rumah bu Puji.

 

Sepertinya, mobil jemputan mudik untuk kedua asisten—begitu bu Puji selalu menyebut mereka, maksudnya sih pembantu—sudah datang. Sepertinya lagi, kedatangannya sudah ditunggu-tunggu, karena begitu mobil berhenti, kedua pembantu itu langsung muncul. Dengan busana agak-agak norak hasil belanjaan kemarin, kedua mbak-mbak itu memasukkan barang bawaannya ke dalam bagasi—banyak dus dan tas kain.

 

Setelah janji tak akan telat kembali, janji akan membawa saudara dari kampung untuk asisten di rumah adiknya bu Puji, dan entah apa lagi yang mereka bicarakan dengan ribut, akhirnya mereka naik juga ke mobil. Dan pergi.

 

Keadaan di luar kembali sepi.

 

Di luar. Soalnya, sepertinya di dalam rumah bu Puji dan anak-anaknya menyambung keriuhan tadi. Tak terdengar apa saja yang mereka ributkan, tetapi sepertinya Asti bisa menebak: gerutuan karena mereka selama sepuluh harian ini harus mengerjakan semua sendiri, lalu pertengkaran tentang siapa-melakukan-apa-saat-kapan.

 

Sudah biasa.

 

Sepertinya tiap menjelang Lebaran, kejadiannya begitu. Lalu hari-hari berlalu dengan perselisihan tentang si anu tidak menjalankan tugasnya, atau tugas tidak dilaksanakan dengan baik, atau blablablabla. Dan diakhiri dengan keluarga itu kemudian pindah ke hotel terdekat agar praktis. Dan keriuhan di kompleks sedikit mereka.

 

Menyeringai. Asti membawa tumpukan piring ke dapur, kembali ke ruang makan sambil membawa lap basah. Dibersihkannya meja sambil berjanji, sebelum jam 12 nanti ia sudah mencuci piring, tidak ditunda-tunda. Habis, udara dingin sekaliiii!

 

Selesai Asti membersihkan meja, Bayu keluar dari kamar mandi dengan wajah segar. “Sudah ada kabar apa dari Paguyuban Ibu-Ibu di Tukang Sayur?” tanyanya sambil nyengir.

 

Dibalas nyengir juga, Asti menggeleng, “Tukang sayur belum datang. Itu, barusan mbak-mbaknya ibu Puji dijemput mudik—“

 

Cengiran Bayu berubah jadi tawa kecil, “Dan kita akan lebih sering mendengar drama keluarga dari depan sana—“

 

Asti turut tertawa.

 

Tapi Bayu kemudian terdiam. “Sudah—tanggal berapa sekarang? Kalau sudah mulai ada jemputan mudik, kalau sudah mulai terlihat pembantu berpulangan, berarti kita harus mulai siap-siap—“

 

Asti mengangkat bahu. “Tanggal dua. Atau—tanggal duapuluh empat Puasa?” sahutnya ragu sambil menghitung hari.

 

Harus mulai siap-siap. Tepatnya, mulai menerima titipan kunci.

 

Di komplek itu bisa dibilang cuma mereka yang tidak punya kampung halaman. Tepatnya, tidak akan mudik. Keluarga Asti semua ada di kota B ini. Ibunya—ayahnya sudah meninggal, tinggal beda komplek. Paman-paman dan bibi-bibi, uwa-uwa dan saudara lain menyebar di seantero kota B. Ada juga sih yang tinggal di ibukota, tapi tentu saja mereka yang akan pulang mudik ke kota B. Bisa dibilang, Asti semasa gadis tidak kenal kata mudik. Tidak punya kampung.

 

Keluarga Bayu sendiri sebetulnya berasal dari C. Ayah ibunya sudah lama bermukim di B tapinya. Lama kelamaan dengan meninggalnya satu demi satu tetua di lembur, acara ngumpul lebaran justru diadakan di rumah Ibu—setelah Ayah juga meninggal. Kondisi Ibu sekarang yang sering sakit-sakitan, membuat anak-anak bersepakat untuk tidak membawa Ibu mudik ke C saat lebaran. Biar saja saudara-saudara dari C yang datang. Biar saja kalau Ibu memang mau menengok kampung halaman, bisa pergi di lain waktu di saat jalanan tidak macet, tidak di musim mudik.

 

Kalaupun mudik itu artinya kembali ke rumah orangtua, berarti mudik mereka cuma berjarak dua kilometer—ke Ibunya Asti, atau lima kilometer—ke Ibunya Bayu.

 

Sejak mereka tinggal di komplek itu, dan sejak banyak yang tahu kalau mereka tidak mudik, maka mulailah acara titip kunci berlangsung. Mulanya tetangga sebelah kiri-kanan. Tetangga kiri, di rumahnya banyak burung. Saat mereka mudik, ada orang yang datang untuk memberi makan burung, tiap pagi. Kunci dititip di Asti. Tetangga kanan, rumah ada yang menunggui, tapi hanya malam. Jadi, pagi-pagi kunci dititip di Asti.

 

Lalu mulai menyebar, tetangga sebelah sono, tetangga di perempatan, dan seterusnya, dan seterusnya. Keperluannya macam-macam, dari mulai memberi makan burung, ada barang titipan, dan seterusnya.

 

Asti tersenyum pahit. “Titipan kunci lagi ya, kang?”

 

Bayu merangkulnya, “Kenapa, sirik sama yang bisa mudik?”

 

Tertawa kecil, Asti menggeleng.

 

“Ya sudah, aku ke kantor dulu. Takut keburu macet. Hari terakhir ngantor, pasti pekerjaan numpuk—“ Bayu membenahi kemejanya. Mengenakan jaket, dan meraih ransel laptopnya. Mengecup kening istrinya, lalu menuju sepeda motornya. Mengenakan helmnya.

 

“Nanti sore buka di rumah, kang?” tanya Asti.

 

“Mudah-mudahan. Aku usahakan. Tapi kalau pekerjaannya bertumpuk, mungkin pulangnya agak malem—“

 

“Ya sudah,” Asti mencium tangan suaminya, membuntuti sepeda motornya hingga ke luar ke jalan, menutup pintu pagar, dan berdiri mengawasi hingga motornya lenyap dari pandangan.

 

Berniat untuk membereskan teras depan, baru saja akan mengambil sapu dan lap pel, ketika dilihatnya dari ujung jalan beberapa mbak tertawa-tawa antar mereka. Penampilan mereka berbeda dengan hari-hari biasa, biasanya kucel seadanya, sekarang rapi berdandan. Bahkan sepertinya mereka pakai make up, walau bisa dibilang norak.

 

Sudah pasti dengan bawaan, tas pakaian, dus-dus bekas mi instan. Asti tersenyum kecil. Untung rumahtangganya belum perlu pakai pembantu, kalau tidak tentunya dia sudah harus memikirkan repotnya kalau pembantu pulang. Tahun depan mungkin perlu, pikirnya, sambil mengelus perutnya—kehamilannya belum terlihat jelas.

 

“Bu Astiiiii,” seru mereka serempak saat melewati rumah. Umur yang tak begitu beda jauh membuat mereka cepat akrab, walau mereka nampak masih menaruh rasa hormat. Mungkin karena mereka melihat Asti punya pendidikan yang lebih, tapi tetap ramah pada mereka?

 

“Hei, mbak Siti, mbak Ayu, Yu Inah, pada pulang sekarang?” sahutnya ramah.

 

“Iya, Bu Asti, titip ibu-ibu kami ya?”

 

Hihi. Ini malah titip majikannya, Asti tersenyum lebar. “Hati-hati di jalan ya, apalagi kalau pegang uang—“

 

“Beres Bu,” sahut Yu Inah, “lagian sekarang uangnya kita kirim pakai transper, Bu, itu loh yang dimasukin ke kantor bank seberang komplek itu—“

 

“Iya, Bu, jadi sekarang kita cuma pegang pas buat ongkos aja. Nggak khawatir kecopetan,” timpal mbak Siti.

 

Pembantu sekarang juga sudah mulai pinter, Asti bersyukur. “Alhamdulillah. Ya sudah, hati-hati di jalan—“

 

Setelah dadah-dadah, rombongan itu lewat sudah.

 

-o0o-

 

Sehabis Jumatan, kali ini ibu-ibu yang mau mengantar anaknya mudik. Jadi, karena hari ini hari terakhir anak-anak sekolah, siang atau sorenya mereka mulai bergerak mudik. Ibu-ibu dan anak-anak. Ayah-ayah belum bisa mudik karena masih banyak yang harus bekerja. Malah ada juga yang baru dapat cuti H-1, sedih—

 

Karena rumah-rumahnya masih berpenghuni, ibu-ibu itu cuma titip pesan saja, bahwa mereka mudik, dan ayah-ayah nanti menyusul tanggal sekian-sekian. Punten kalau lewat rumah, tolong diawasi. Apalagi kalau nanti ayah-ayah mudik.

 

Asti sudah merasa jadi pak RT saja jadinya. Ya memang pak RT masih ada, tapi biasanya pas hari lebarannya, beliau pergi ke kampungnya. Deket sih, sejam juga sampai, dan biasanya tidak lama, besoknya beliau juga sudah muncul lagi, tapi kesannya jadi dia satu-satunya yang tidak mudik…

 

Sudah selesai shalat tarawih ketika Bayu akhirnya pulang. Terlihat lelah, tetapi juga puas.

 

“THR udah masuk rekening, Ti. Trus libur sampai tanggal 12. Ayo, kita mau belanja apa dulu?”

 

Asti tertawa. “Perasaan baju masih banyak, dan bagus-bagus. Simpen saja buat bekel si dede,” Asti mengelus perutnya yang masih nampak rata. Bayu ikutan tertawa, mencium perut Asti.

 

“Paling tidak, buat ngasih Ibu dan Mamah. Trus, mungkin sama mang Endang, tukang kebun kita. Jangan lupa keluarin zakat fitrah sama zakat mal-nya.”

 

“Baik, Yang Mulia!” Asti menyahut takzim.

 

Sambil berganti baju, Bayu tertawa lagi.

 

Berjalan menuju ruang tengah, Asti membuatkan teh manis sambil menawarkan apakah Bayu masih mau makan. Bayu malah menyalakan TV dan mulai menyimak berita.

 

“Tadi siang, aku lihat di berita, banyak yang punya motor malah dikirim ke kampung via kereta api. Orangnya nanti nyusul naik kereta atau bis—“ Asti menyusul duduk di depan TV sambil mengangsurkan mug teh manisnya. Sambil menyeruput teh, Bayu mengangguk.

 

“Kalau motor dikirim seperti itu sudah dibiasakan, mudah-mudahan kecelakaan bisa dikurangi. Ngeri juga melihat banyaknya kecelakaan sepeda motor akhir-akhir ini—“

 

Asti setuju, “Apalagi yang naik motor bertiga, berempat, karena kendaraannya cuma itu-itunya. Apalagi bawa anak kecil. Ngeri pisan—“

 

Bayu terdiam. Matanya tertuju pada berita di TV tapi sorot matanya seperti tak mengikuti. Mug teh-nya tak dihirup lagi.

 

Ia menghela napas.

 

“Ti.”

 

“Hm?”

 

“Kau tahu, aku sangat bersyukur dengan keadaan kita sekarang.”

 

Asti menoleh, menatap wajah suaminya dengan seksama.

 

“Kita mudik tak perlu  jauh-jauh. Tak bisa pakai motor, pakai angkot juga bisa. Coba bayangkan kita seperti mereka—“

 

TV sedang menayangkan kilasan berita tahun lalu saat arus mudik sedang penuh-penuhnya. Bayu memusatkan perhatian pada para pengendara motor.

 

“Kita cuma punya motor. Lalu, kau juga sedang hamil. Bayangkan kalau kita harus menempuh perjalanan jauh, macet, hujan—“

 

“Kang—“

 

“Dulu saat masih kecil, kami pernah mudik ke C dalam keadaan begitu. Masih pakai motor, kehujanan, dan Ibu ternyata sedang hamil dede Bagas. Tahu apa yang aku doakan saat itu?”

 

Asti menggeleng.

 

“Aku ingin dijauhkan dari keadaan seperti itu. Tak berapa lama, doaku terjawab. Ayah bisa mencicil mobil. Jadi mudik pun menjadi lebih mudah. Apa kau tahu apakah doaku terjawab sekali lagi?”

 

Asti menatap dengan rasa ingin tahu.

 

“Waktu menikahimu.”

 

Wajah Asti semakin penasaran.

 

“Karena aku dapet istri yang tidak usah mudik—“

 

Asli Asti melongo.

 

Suara Bayu serius, tapi ujung matanya menampakan seraut tawa.

 

“Akang mah!” akhirnya Asti ngeh, memukulinya dengan gemas.

 

“Hehe, tapi  bener kan? Dapet istri yang nggak usah mudik, yang nggak punya kampung. Jadi doaku terkabul lagi: nggak usah repot-repot macet, kehujanan, licin, berdesak-desakan—“

 

Tangannya merangkul Asti, suaranya berubah serius, tapi lunak, “Kita dianugerahi kemudahan. Mungkin bisa kita bagikan lagi kemudahan ini bagi yang lain. Misalnya, dengan diamanahi, dititipi kunci. Mungkin dengan dititip di kita, mereka jadi lebih tenang meninggalkan rumah—“

 

Asti mengangguk. Sungguh-sungguh.

 

Besok jika ada yang menitip kunci, rasa hatinya tentu berbeda. Kini.

 

SELESAI