#Cerpen: Menjelang Perayaan Ulang Tahun Pengusaha Surjadi Bachri

Menjelang Perayaan Ulang Tahun Pengusaha Surjadi Bachri

Oleh: Wendy Fermana

 

“Jadi, kami tidak boleh sembahyang tarawih di masjid?” Siti tak kuasa menahan pertanyaannya, sehingga memotong cerita Utik.

Cerita itu tentang Pengusaha Surjadi Bachri yang berencana merayakan ulang tahun keenam puluh. Maka aku kembali teringat ke asal-mula ceritanya:

“Pokoknya saya dengar dia minta semua yang nomor satu hadir di sana. Tenda, undangan, makanan, souvenir, semua ambil nomor satu.”

 

1362395097

Di pekarangan belakang rumah Hajah Fatma, kami mendengar Utik bercerita tentang rencana perayaan besar-besaran itu. Tuturan langsung dari si keponakan Pengusaha Surjadi Bachri, membuat beberapa dari kami beralih perhatian dari kegiatan masak-memasak; aku menghentikan memotong kubis, Wak Mirah memperlambat adukan kuah sop, Siti lupa kalau ia sedang mengulek cabe dan dengan santai mengusap matanya, tentulah ia kepedihan; dan yang lain meskipun tidak menghentikan kegiatannya secara tiba-tiba, tampak pula memasang telinga dengan penuh perhatian.

“Acaranya Jumat depan, dari menjelang Maghrib sampai Isya. Jadi buka bersama begitu.”

Wak Mirah menyela, “Katanya cuma buka puasa, kok sampai Isya?”

“Bahkan kalau bisa sampai Dhuha besok, Wak. Pagi harinya akan foto keluarga besar,” seru Utik.

Kami mengangguk-angguk. Wak Mirah bertanya lagi, “Kami ni diundang dak, Tik?”

Utik menciduk air dan mencuci wortel. “Aku tidak tahu pasti, Wak, tapi kalau tak salah dengar, orang sini dipilih-pilih saja.”

Aku tercenung, dipilih-pilih?

Saat itulah Siti angkat suara, dan dibalas Utik dengan kalimat, “Bukan tidak boleh sembahyang tarawih, tapi hari itu tidak bisa di masjid itu.”

Tidak boleh, tidak bisa sembahyang tarawih?

“Ya, sudah kita ke mesjid lain.”

***

Semua kabar itu masih sekadar dengar-dengar. Utik yang juga keponakan Pengusaha Surjadi Bachri juga baru dengar-dengar. Meskipun mengaku begitu aku percaya saja, sebab pada akhir cerita ia bilang tahu semua kisah ini dari Ibunya. Bagiku orang tua perlu, dan lebih baik dipercaya.

Cerita itu memutar lagi di kepalaku:

“Perayaan itu sekaligus reuni teman kuliah Om Surjadi, sembari pesta dengan rekanan bisnisnya.”

Pantas saja kalau kami tak diundang. Tapi masih ada kemungkinan kalau termasuk daftar yang diundang? Daftar orang yang dipilih-pilih itu?

Cerita itu terputus, karena ketukan di pintu. Murni datang membawa tabung gas. Setelah menukarkan tabung itu dengan yang berisi, aku dan Murni malah bertukar obrolan di teras rumah. Mulanya ngobrol mengenai harga sembako yang terus naik menjelang lebaran. Bercerita tentang jumlah tadarus Alquran masing-masing. Dan beralih pada cerita perayaan itu.

Sebenarnya semua ini tidaklah penting, dibandingkan melakukan ibadah lain, malahan mungkin saja obrolan kami menjadi dosa karena membicarakan orang lain, tapi semua ini layak diralat menjadi hal penting karena membawa-bawa perayaan yang mengganggu peribadatan solat.

“Jadi benar tidak bisa solat tarawih?” tanya Murni.

“Pas solat tarawih kemarin tidak ada pengumuman undangan ke warga. Bakda solat Jumat tadi juga tidak ada pengumuman itu.”

“Tendanya sudah dipasang.”

“Bagus?” aku ingin tahu.

“Seperti mau mengantenkan.”

Mewah benar berarti.

Catering-nya juga sudah datang.”

“Bukan Wak Mirah yang masak ya?”

Murni menggeleng. “Padahal masakannya tidak kalah lezat ya.”

“Kudengar beliau minta yang nomor satu semua.”

“Memang Wak Mirah nomor berapa?”

“Tidak tahulah aku, Mur. Nomor-nomoran, aku kurang paham. Selera pengusaha kan beda. Seleranya tinggi.”

“Jadi benaran tidak ada yang mengundang?” Murni menegaskan lagi.

“Kau tanya terus, Mur, aku tidak bohong, tidak ada undangan. Hmm, apa jangan-jangan kau diundang, Mur?” tuduhku, penasaran.

“Tidak diundang juga. Cuma penasaran saja. Ibu-ibu pengajian tidak ada yang diundang ya.”

“Ustazah Nur tidak mungkin tidak diundang.”

“Mungkin ya, tapi kita tidak tahu.”

Aku mengingat pembangunan mesjid itu. Di lorong ini dulu tidak ada rumah tempat solat itu. Baru tiga tahun lalu, seorang pengusaha kaya, Surjadi Bachri yang juga pernah dibesarkan di daerah ini, kembali setelah kesuksesannya. Ia merobohkan rumah tua tempatnya tinggal dulu dan menimbunnya dengan tanah merah. Terbentanglah tanah lapang menggantikan rawa-rawa yang merendam bangunan rumah tinggal, tempat para pencari belut dulu menaruh bubu. Lenyap pula ketakutan kami akan rawa sarang belut, ular, dan nyamuk serta berhantu tersebut.

Mesjid itu kami kira akan dibangun dengan swadaya. Tahu-tahu semua bahan konstruksi dan alat berat sudah tersedia. Dibangunlah mesjid megah itu dengan arsitektur minimalis, berkubah besar semacam mangkuk tengkurap. Dindingnya dikapur putih dan abu-abu, warna-warna yang sederhana, tapi membuatnya jadi sangat indah.

Cerita dalam kepalaku berakhir, saat Murni pamit pulang. “Keenakan ngobrol jadi kelupaan, padahal mau masak untuk buka puasa.”

Aku sendiri lagi, seharusnya bisa dilanjutkan untuk menambah bacaan Alquran, karena aku sudah beres memasak. Tapi aku lebih senang leyeh-leyeh di tikar depan televisi. Semakin gelap mataku terbayang-bayang suamiku yang semalam membacakan kertas susunan kepanitiaan Perayaan 60 Tahun Surjadi Bachri.

“Tidak tahu juga aku, Dik, kata Pak Ketua Mesjid pesan Pak Surjadi dipilih saja. Dengar-dengar bakal banyak rekanan bisnisnya yang diundang.”

Dengar-dengar lagi? Sungguh banyak yang senang mendengar-dengar, termasuk aku ini.

Suamiku muncul dari kamar mengenakan baju takwa warna krem.

“Aku solat Ashar, dan buka di mesjid ya. Tapi sebelum Ashar ini aku sudah bantu-bantu di sana.”

“Ya.”

“Kalau mau solat tarawih di mesjid, rasanya tak masalah.”

Tapi, aku dan yang lain, setidaknya yang sempat ngobrol-ngobrol tentang perayaan ini sepakat untuk solat di mesjid lain dulu. Kecuali Murni yang ngotot, “Masa solat saja tidak boleh. Aku cuma mau numpang solat saja kok, tidak mau minta makanannya.”

Aku tak acuh, dan mengiyakan, tapi tetap akan pindah mesjid dulu, toh sebenarnya sama saja.

Sebentar sebelum ia pergi, aku cerita dengan suamiku.

“Nah, itulah kalau bulan puasa baru sibuk-sibuk mau solat di mesjid, selama ini ke mana saja.”

Ia ngeloyor pergi, sebelum aku sempat menjawab, tapi tidak tahu pula aku harus menjawab seperti apa semestinya. Meski menyakitkan hati, yang dikatakannya benar.

Aku menggerundel. Lantas tersadar, puasaku ini bisa jadi sia-sia belaka, hanya dapat lapar dan haus saja. Aku menyesal, kemudian buru-buru ke pancuran, mengambil wudhu, daripada membicarakan orang lain, lebih baik aku membaca Alquran.

***

Menjelang Ashar langit mendadak gelap. Tak menunggu lama, air mulai menitik, dan terus menderas. Bulan puasa di musim tak tentu cuaca ini, memang mengharukan, hujan dan panas datang bergantian tak tentu waktu. Untungnya jemuranku sudah kering. Terdengar sayup suara azan Ashar.

Cuaca sungguh tidak bersahabat. Aku teringat dengan perayaan ulang tahun Pak Surjadi Bachri di mesjid. Apakah ramai, meski hujan begini? Kasihan juga kalau sepi. Sebesar-besar hajatan kalau sedikit tamunya, tidak menarik juga. Tetapi, bukankah tamunya rekan pengusaha semua, pastilah tak masalah untuk datang, tinggal naik mobil bisa sampai.

Menjelang Maghrib hujan tak kunjung reda. Air menggenang di halaman, di jalan, dan membungkus kampung ini dengan begitu rapat. Aku dan dua anakku memecah puasa dengan kurma dan segelas teh manis.

Jalanan depan rumah terendam banjir, hujan juga masih menetes. Aku jadi malas solat tarawih. Sungguh banyak sekali alasan, tapi kakiku ngilu benar kena air, apalagi jalanan gelap. Lampu penerang jalan mati. Dan banjir begini jalanan berserak air dan lumpur, kalau tak hati-hati aku bisa terpeleset lagi seperti dua bulan lalu, dan terbaring di tempat tidur hampir sepekan lamanya.

Suamiku pulang lepas tarawih dengan wajah kelelahan. Waktu beranjak tidur, kami ngobrol sebentar. Aku bertanya, tentang keramaian tamu tadi. Dia mendesah, “Kasihan sekali.”

Sedih juga aku mendengar ceritanya. Undangan yang disebar jauh-jauh, karena mungkin cuaca, membuat lebih banyak orang tidak datang. Undangan yang dekat-dekat, ya paling cuma sepuluh rumah di kanan-kiri mesjid saja yang datang. Mesjid saat itu lenggang sekali. Menjelang buka puasa itu, di dalam mesjid yang dikepung dingin hujan dengan kipas angin menyala, Pengusaha Surjadi Bachri terus berkipas-kipasan dengan karton air mineral, sambil duduk lemas menyandar di tembok menanti tamu-tamu datang.

 

Palembang, 19 Juli 2013

 

Wendy Fermana, lahir di Palembang, 10 November 1994. Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Sriwijaya. Cerita pendek dan puisinya dipublikasikan di majalah Horison sisipan Kakilangit, harian Sumatera Ekspres, dan harian Berita Pagi serta beberapa bunga rampai.

 

#Cerpen: Doa Dalam Sekotak Donat

Doa dalam Sekotak Donat

oleh: Arief Sunarya

Ritual tahunan harus ia lalui lagi. Sebuah putaran siklus yang sama. Tak ada yang berubah, kecuali titipan khusus emaknya

Bau keringat, asap rokok, sendawa dan kentut bergulung-gulung bersenyawa di udara kabin bus P.O. Larasati jurusan Purwokerto. Bus kelas ekonomi itu sudah sesak dan pengap namun tak jua beranjak. Kantuk berkali-kali membenturkan kepala Sugeng ke kaca jendela. Badannya kuyup dan sumuk[1]. Ia melirik jam tangannya…astagfirullah sudah lebih dari satu jam ia mandi sauna. Pengasong minuman terus menggoda kesabaran dan kerongkongan keringnya yang sedang berpuasa dengan botol air yang bening dan berembun. “Air…air…buat persiapan di jalan,” tawar mereka sambil menyorongkan botol hanya sejengkal dari mulut. Ide untuk membatalkan puasa pun mulai menggoda kesabarannya, toh bukankah ia sekarang berada dalam posisi seorang musafir? Yang berhak menerima dispensasi? Batinnya terus bergulat dan mencari pijakan pembenaran sebelum dikagetkan oleh pekikan sumbang seorang pengamen berkaos Chairil Anwar ngudud.

22-desen-valeriu-mladin-donat-de-artmark-imdd-1341524088_b

“Salam seni! salam damai! izinkan saya membacakan sepotong puisi tentang penderitaan,” teriaknya berapi-api bak seorang aktivis berorasi di depan barisan demonstran.

“Eh alaa, ketinggalan kalee…seisi bus ini sudah dari tadi melantunkan puisi penderitaan secara berjamah,” sungut Sugeng kesal.

Babak demi babak drama di dalam bus terus berganti—yang selalu sama tiap tahun—namun sesi keberangkatan tetap jadi misteri. Sedang rasa haus dan lapar semakin memobilisasi nafsunya membatalkan puasa. Untuk mengalihkan perhatian, Sugeng membenamkan earphone ke kedua kupingnya. “Ribuan kilo jarak yang kau tempuh….lewati rintang untuk aku anakmuibuku sayang masih terus berjalanwalau tapak kaki penuh darahpenuh nanah…” sebuah lagu Iwan Fals menuntun matanya pada sebuah bungkusan di pangkuan—sekotak donat pesanan emak.

Le, kalo nanti pulang, tolong beliin emak donat Amerika itu ya.” Begitu emak menamakan donat kesukaannya. Entah kenapa lidahnya begitu kesemsem dengan donat ini. Dulu, ketika plesiran ke Jakarta Fair sekeluarga, bapak membelikan mereka sekotak American Donat—satu-satunya donat yang ada saat itu. Dari situ cinta emak tertancap. Meski Sugeng pernah membawakannya rupa-rupa donat lain yang sedang in di Jakarta, emak bergeming. Ia tak bisa ke lain hati.

“Mas..Mas..pindah!” bahunya diguncang seorang bapak yang duduk di sebelahnya.

Terperanjat dari tidurnya Sugeng menerawang ke sekeliling. Di dalam bus sedang terjadi chaos, sebagian penumpang sibuk mengemasi barang-barang, sebagian lain sudah bablas berhamburan.

“Busnya mogok, tolong pindah ke bus sebelah sana!” Teriak seorang kondektur sambil menunjuk ke arah deretan bus P.O. Larasati lainnya. Tangannya mengibas-ngibas seperti menghalau sekawanan kambing.

Samber gledek! sekian lama menunggu bukannya berangkat, malah dibedol ke bus lain. Seratus sumpah serapah Sugeng hanya menyublim di udara. Lenyap tak berbekas. Tak merubah apa-apa. Dengan terhuyung ia segera bangkit dan mengemasi barang-barangnya. Ingin rasanya mendamprat habis si kondektur. Tapi raut mukanya yang tua dan lusuh membuat Sugeng iba. Entah kenapa tiba-tiba ia ingat mendiang bapaknya. Seperti dirinya, bapaknya pernah mengadu nasib ke Jakarta, bekerja serabutan sebelumnya akhirnya menjadi kondektur PPD. Rasanya baru kemarin seorang bocah berharap-harap cemas menunggu oleh-oleh dari bapaknya yang akan pulang menjelang lebaran.

“Ini dibelikan bapakku dari Jakarta,” kata ‘Sugeng kecil’ dengan bangga di depan teman-temannya.

Hanya sebuah mobil-mobilan murah dari Pasar Gembrong, tapi tak satupun anak-anak di kampungnya yang punya.Waktu memang tak kenal ampun, menggerus setiap orang yang lengah dengan hidupnya kemudian hanya menyisakan remah-remah. Sugeng mungkin salah satunya. Kombinasi antara kelengahan dan ketakberdayaan membuat dia terperangkap dalam pengulangan waktu yang sama. Seperti bapaknya, ia kini harus berjibaku di ibu kota sebagai pekerja kelas bawah. Ah, sudahlah tak ada waktu untuk melo, kehidupan masa silam takkan pernah bisa berbagi dengan masa kini. Ia memupus lamunan. Sekarang tantangan menunggu di depan: berebut bangku dan posisi nyaman.

Alhamdulillah, Gusti Allah masih menyisakan satu bangku untuknya. Sugeng menghenyakkan badannya ke sederet bangku yang tersisa, persis di belakang sopir dengan helaan nafas panjang. Salah satu posisi favoritnya karena matanya bisa leluasa menatap setiap lekuk jalanan. Sayang tulisan besar—biasanya merupakan jargon si sopir bus—IWAK PEYEK berwarna kuning keemasan di kaca depan mengganggu pandangan. Tak berapa lama roda bus mulai melata ke luar terminal Kampung Rambutan menjalani rute perjalanan pulang.

Bleduk! Duar! bukan ban bus yang pecah. Tapi Jantung Sugeng serasa mleduk karena sadar ada sesuatu yang kurang. Donat emak ketinggalan! Gusti Allah! kiamat ini. Tasnya masih ada di pangkuan tapi donatnya lenyap. Meski gelisah becampur gusar ia mencoba mengingat-ingat di mana donat itu tertinggal. Hmmm…rasanya hampir pasti tertinggal di bangku bus mogok sialan itu ketika ia buru-buru turun. Pilihannya sekarang cuma dua: meneruskan perjalanan atau kembali ke terminal. Kalo kembali, apa iya donat itu masih ada di sana?  hari gini barang di depan mata pun bisa lenyap dalam hitungan detik. Apalagi ia telah keluar setengah jam lebih dari terminal. Timbang menimbang ditimbang-timbang. Tidak, ia harus melanjutkan perjalanan pikirnya hampir bulat. Ia terlalu lelah untuk kembali dan harus mengulang semua dari awal. Mungkin belum rezeki emak bisa makan donat hari ini, benaknya mencari pembenaran. Namun sepotong wajah emak yang sedang tersenyum lebar melihat donat kesukaannya tiba-tiba terpampang di pelupuk mata. Sebuah momen mahal dan langka. Emaklah satu-satunya yang ia miliki sekarang, yang membawanya untuk selalu pulang. Ayahnya dan saudara semata wayangnya telah lebih dulu berpulang. Logika dan nalurinya beradu. Meski tersudut, perasaannya menang. Dengan membisikkan bismillah serta laa haula walaa quwwata Sugeng memutuskan kembali ke terminal, menapaki lagi takdir barunya.

Setibanya kembali di terminal, ia langsung berlari menghampiri bus mogok itu dan  melompat naik. Matanya mulai menyapu semua bangku dari belakang hingga ke depan. Ia telisik semuanya dari bawah hingga ke atas berulang-ulang. Nihil. Kondektur dan sopir yang ia tanya mengaku tak melihat apa-apa. Sia-sia sudah semua usahanya. Mestinya ia tetap di bus meneruskan perjalanan. Ia memaki-maki dirinya sendiri yang tak pintar berhitung. Logikanya benar. Tak perlu menjadi seorang jenius untuk bisa menebak bungkusan donatnya sudah lewat di rimba terminal. Omong kosong dengan perasaan. Dengan gontai ia melangkah ke luar dan segera mencari bus jurusan Purwokerto berikutnya sambil tak henti mengutuki dirinya.

Kembali, ia harus memulai semuanya dari awal dan terperangkap dalam penantian. Kesal dan sesal terus bergaung di kepalanya sampai bus perlahan bergerak meninggalkan terminal. Pintu tol Karawang Barat adalah tulisan terakhir yang ia lihat sebelum terkulai pulas di kaca jendela. Dentuman musik tarling pantura yang dipasang sopir perlahan senyap. Di antara alunan deru mesin dan antukan lubang di jalan, dua kali sudah ia dikunjungi mimpi yang sama. Ia melihat senyum lembut emaknya sambil berkata, ”Le, weruh awakmu mulih utuh wae biyungmu iki lego atine[2].”

Byaarr! terus hilang begitu aja. Kata orang tua dulu, mimpi yang berulang adalah sebuah pertanda. Petaka atau anugerah tergantung dari rotasi hukum sebab akibat—apa yang kita perbuat.

Semburat cahaya kemerahan tanda hari beranjak maghrib membias di kaca. Dari seluruh rangkaian ritual perjalanan pulang, inilah bagian yang paling ia suka. Ketika hembusan angin yang menerobos kaca jendela menepuk-nepuk wajahnya, dan panorama hamparan sawah serta deretan rumah berkelebat menerbangkan angan dan pikiran sesukanya. Sebuah billboard rumah makan bertuliskan Sukamandi melintas cepat. Tak terasa bus sudah memasuki wilayah Pantai Utara. Sebentar lagi ular kemacetan akan menghadang—masalah endemik setiap tahun. Bus mulai merayap pelan memberi kesempatan pedagang asongan melompat naik menjajakan minuman dan makanan. Biasanya melalui pedagang asongan informasi seputar kemacetan bisa disadap.

“Air…air…buat buka puasa,” Teriak seorang pengasong sambil melompat masuk.

“Macet panjang ada kecelakaan di depan,” Sambung pengasong lainnya.

“Tabrakan?” Tanya Sugeng sambil membeli sebotol minuman untuk membatalkan.

“Iya, bus sama truk kontainer.”

“Parah?”

“Katanya yang mati banyak.”

Sugeng sudah tak berselera bertanya lagi. Bus yang ia tumpangi sekarang sudah tak merayap lagi namun berhenti. Macet total. Berkilo-kilo mengular. Ah, coba saja ia tak memaksa kembali ke terminal. Pastilah ia sekarang sudah selonjoran di depan televisi sembari menyeruput secangkir kopi. Ia mulai mengungkit-ungkit kembali. Arlojinya sudah menunjukkan pukul sembilan malam ketika busnya mulai merayap, bergerak mendekati simpul kemacetan. Tanpa ada yang mengomandoi, para penumpang berebut melongokkan kepala mereka ke luar karena ingin melihat kejadian. Didorong rasa penasaran, Sugeng pun spontan mengikuti. Sirine mobil polisi masih meraung-raung di sekitar TKP. Putaran lampunya berkelebat-kelebat merah memantul di wajahnya. Tampak puluhan orang bergerombol menonton sebuah bus terkapar di pinggir jalan dengan kondisi mengenaskan. Pengasong minuman tadi tidak mengada-ada. Ini sebuah tabrakan maut. Bau kematian menebar dan tercium pekat. Seperempat badan bus hancur seperti disobek gunting raksasa. Gumam ngeri para penumpang berdengung seperti lebah.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” bersahutan mereka mengirim doa.

Nama bus naas itu masih terbaca jelas kendati sudah penyok-penyok dan penuh guratan basah darah. PO LARASATI. Sugeng terperanjat. Jantungnya berdetak kencang. Sebuah tulisan carut marut keemasan—di atas sebongkah sisa kaca depan bus yang masih menggantung—terbaca olehnya: IWAK PEYEK!. Sugeng terkulai lemas. Matanya menerawang kosong. Rupanya sang maut berencana menjemputnya hari ini, tapi sekotak donat emak telah berniaga dengannya •

Jakarta, 24 Juli 2013.


[1] Gerah

[2] Nak, melihat kamu pulang selamat saja ibu sudah senang