#Cerpen: Titip

vitrase

 

TITIP

Ambu Dian

-o0o-

 

Sambil menumpukkan piring-piring kotor usai sahur dinihari, Asti melongok sedikit ke jendela. Jendela besar, tirainya sudah dibuka, tetapi masih dihalangi vitrase tipis, sehingga isi rumah tak jelas terlihat dari luar.

 

Ada keriuhan di rumah seberang. Rumah bu Puji.

 

Sepertinya, mobil jemputan mudik untuk kedua asisten—begitu bu Puji selalu menyebut mereka, maksudnya sih pembantu—sudah datang. Sepertinya lagi, kedatangannya sudah ditunggu-tunggu, karena begitu mobil berhenti, kedua pembantu itu langsung muncul. Dengan busana agak-agak norak hasil belanjaan kemarin, kedua mbak-mbak itu memasukkan barang bawaannya ke dalam bagasi—banyak dus dan tas kain.

 

Setelah janji tak akan telat kembali, janji akan membawa saudara dari kampung untuk asisten di rumah adiknya bu Puji, dan entah apa lagi yang mereka bicarakan dengan ribut, akhirnya mereka naik juga ke mobil. Dan pergi.

 

Keadaan di luar kembali sepi.

 

Di luar. Soalnya, sepertinya di dalam rumah bu Puji dan anak-anaknya menyambung keriuhan tadi. Tak terdengar apa saja yang mereka ributkan, tetapi sepertinya Asti bisa menebak: gerutuan karena mereka selama sepuluh harian ini harus mengerjakan semua sendiri, lalu pertengkaran tentang siapa-melakukan-apa-saat-kapan.

 

Sudah biasa.

 

Sepertinya tiap menjelang Lebaran, kejadiannya begitu. Lalu hari-hari berlalu dengan perselisihan tentang si anu tidak menjalankan tugasnya, atau tugas tidak dilaksanakan dengan baik, atau blablablabla. Dan diakhiri dengan keluarga itu kemudian pindah ke hotel terdekat agar praktis. Dan keriuhan di kompleks sedikit mereka.

 

Menyeringai. Asti membawa tumpukan piring ke dapur, kembali ke ruang makan sambil membawa lap basah. Dibersihkannya meja sambil berjanji, sebelum jam 12 nanti ia sudah mencuci piring, tidak ditunda-tunda. Habis, udara dingin sekaliiii!

 

Selesai Asti membersihkan meja, Bayu keluar dari kamar mandi dengan wajah segar. “Sudah ada kabar apa dari Paguyuban Ibu-Ibu di Tukang Sayur?” tanyanya sambil nyengir.

 

Dibalas nyengir juga, Asti menggeleng, “Tukang sayur belum datang. Itu, barusan mbak-mbaknya ibu Puji dijemput mudik—“

 

Cengiran Bayu berubah jadi tawa kecil, “Dan kita akan lebih sering mendengar drama keluarga dari depan sana—“

 

Asti turut tertawa.

 

Tapi Bayu kemudian terdiam. “Sudah—tanggal berapa sekarang? Kalau sudah mulai ada jemputan mudik, kalau sudah mulai terlihat pembantu berpulangan, berarti kita harus mulai siap-siap—“

 

Asti mengangkat bahu. “Tanggal dua. Atau—tanggal duapuluh empat Puasa?” sahutnya ragu sambil menghitung hari.

 

Harus mulai siap-siap. Tepatnya, mulai menerima titipan kunci.

 

Di komplek itu bisa dibilang cuma mereka yang tidak punya kampung halaman. Tepatnya, tidak akan mudik. Keluarga Asti semua ada di kota B ini. Ibunya—ayahnya sudah meninggal, tinggal beda komplek. Paman-paman dan bibi-bibi, uwa-uwa dan saudara lain menyebar di seantero kota B. Ada juga sih yang tinggal di ibukota, tapi tentu saja mereka yang akan pulang mudik ke kota B. Bisa dibilang, Asti semasa gadis tidak kenal kata mudik. Tidak punya kampung.

 

Keluarga Bayu sendiri sebetulnya berasal dari C. Ayah ibunya sudah lama bermukim di B tapinya. Lama kelamaan dengan meninggalnya satu demi satu tetua di lembur, acara ngumpul lebaran justru diadakan di rumah Ibu—setelah Ayah juga meninggal. Kondisi Ibu sekarang yang sering sakit-sakitan, membuat anak-anak bersepakat untuk tidak membawa Ibu mudik ke C saat lebaran. Biar saja saudara-saudara dari C yang datang. Biar saja kalau Ibu memang mau menengok kampung halaman, bisa pergi di lain waktu di saat jalanan tidak macet, tidak di musim mudik.

 

Kalaupun mudik itu artinya kembali ke rumah orangtua, berarti mudik mereka cuma berjarak dua kilometer—ke Ibunya Asti, atau lima kilometer—ke Ibunya Bayu.

 

Sejak mereka tinggal di komplek itu, dan sejak banyak yang tahu kalau mereka tidak mudik, maka mulailah acara titip kunci berlangsung. Mulanya tetangga sebelah kiri-kanan. Tetangga kiri, di rumahnya banyak burung. Saat mereka mudik, ada orang yang datang untuk memberi makan burung, tiap pagi. Kunci dititip di Asti. Tetangga kanan, rumah ada yang menunggui, tapi hanya malam. Jadi, pagi-pagi kunci dititip di Asti.

 

Lalu mulai menyebar, tetangga sebelah sono, tetangga di perempatan, dan seterusnya, dan seterusnya. Keperluannya macam-macam, dari mulai memberi makan burung, ada barang titipan, dan seterusnya.

 

Asti tersenyum pahit. “Titipan kunci lagi ya, kang?”

 

Bayu merangkulnya, “Kenapa, sirik sama yang bisa mudik?”

 

Tertawa kecil, Asti menggeleng.

 

“Ya sudah, aku ke kantor dulu. Takut keburu macet. Hari terakhir ngantor, pasti pekerjaan numpuk—“ Bayu membenahi kemejanya. Mengenakan jaket, dan meraih ransel laptopnya. Mengecup kening istrinya, lalu menuju sepeda motornya. Mengenakan helmnya.

 

“Nanti sore buka di rumah, kang?” tanya Asti.

 

“Mudah-mudahan. Aku usahakan. Tapi kalau pekerjaannya bertumpuk, mungkin pulangnya agak malem—“

 

“Ya sudah,” Asti mencium tangan suaminya, membuntuti sepeda motornya hingga ke luar ke jalan, menutup pintu pagar, dan berdiri mengawasi hingga motornya lenyap dari pandangan.

 

Berniat untuk membereskan teras depan, baru saja akan mengambil sapu dan lap pel, ketika dilihatnya dari ujung jalan beberapa mbak tertawa-tawa antar mereka. Penampilan mereka berbeda dengan hari-hari biasa, biasanya kucel seadanya, sekarang rapi berdandan. Bahkan sepertinya mereka pakai make up, walau bisa dibilang norak.

 

Sudah pasti dengan bawaan, tas pakaian, dus-dus bekas mi instan. Asti tersenyum kecil. Untung rumahtangganya belum perlu pakai pembantu, kalau tidak tentunya dia sudah harus memikirkan repotnya kalau pembantu pulang. Tahun depan mungkin perlu, pikirnya, sambil mengelus perutnya—kehamilannya belum terlihat jelas.

 

“Bu Astiiiii,” seru mereka serempak saat melewati rumah. Umur yang tak begitu beda jauh membuat mereka cepat akrab, walau mereka nampak masih menaruh rasa hormat. Mungkin karena mereka melihat Asti punya pendidikan yang lebih, tapi tetap ramah pada mereka?

 

“Hei, mbak Siti, mbak Ayu, Yu Inah, pada pulang sekarang?” sahutnya ramah.

 

“Iya, Bu Asti, titip ibu-ibu kami ya?”

 

Hihi. Ini malah titip majikannya, Asti tersenyum lebar. “Hati-hati di jalan ya, apalagi kalau pegang uang—“

 

“Beres Bu,” sahut Yu Inah, “lagian sekarang uangnya kita kirim pakai transper, Bu, itu loh yang dimasukin ke kantor bank seberang komplek itu—“

 

“Iya, Bu, jadi sekarang kita cuma pegang pas buat ongkos aja. Nggak khawatir kecopetan,” timpal mbak Siti.

 

Pembantu sekarang juga sudah mulai pinter, Asti bersyukur. “Alhamdulillah. Ya sudah, hati-hati di jalan—“

 

Setelah dadah-dadah, rombongan itu lewat sudah.

 

-o0o-

 

Sehabis Jumatan, kali ini ibu-ibu yang mau mengantar anaknya mudik. Jadi, karena hari ini hari terakhir anak-anak sekolah, siang atau sorenya mereka mulai bergerak mudik. Ibu-ibu dan anak-anak. Ayah-ayah belum bisa mudik karena masih banyak yang harus bekerja. Malah ada juga yang baru dapat cuti H-1, sedih—

 

Karena rumah-rumahnya masih berpenghuni, ibu-ibu itu cuma titip pesan saja, bahwa mereka mudik, dan ayah-ayah nanti menyusul tanggal sekian-sekian. Punten kalau lewat rumah, tolong diawasi. Apalagi kalau nanti ayah-ayah mudik.

 

Asti sudah merasa jadi pak RT saja jadinya. Ya memang pak RT masih ada, tapi biasanya pas hari lebarannya, beliau pergi ke kampungnya. Deket sih, sejam juga sampai, dan biasanya tidak lama, besoknya beliau juga sudah muncul lagi, tapi kesannya jadi dia satu-satunya yang tidak mudik…

 

Sudah selesai shalat tarawih ketika Bayu akhirnya pulang. Terlihat lelah, tetapi juga puas.

 

“THR udah masuk rekening, Ti. Trus libur sampai tanggal 12. Ayo, kita mau belanja apa dulu?”

 

Asti tertawa. “Perasaan baju masih banyak, dan bagus-bagus. Simpen saja buat bekel si dede,” Asti mengelus perutnya yang masih nampak rata. Bayu ikutan tertawa, mencium perut Asti.

 

“Paling tidak, buat ngasih Ibu dan Mamah. Trus, mungkin sama mang Endang, tukang kebun kita. Jangan lupa keluarin zakat fitrah sama zakat mal-nya.”

 

“Baik, Yang Mulia!” Asti menyahut takzim.

 

Sambil berganti baju, Bayu tertawa lagi.

 

Berjalan menuju ruang tengah, Asti membuatkan teh manis sambil menawarkan apakah Bayu masih mau makan. Bayu malah menyalakan TV dan mulai menyimak berita.

 

“Tadi siang, aku lihat di berita, banyak yang punya motor malah dikirim ke kampung via kereta api. Orangnya nanti nyusul naik kereta atau bis—“ Asti menyusul duduk di depan TV sambil mengangsurkan mug teh manisnya. Sambil menyeruput teh, Bayu mengangguk.

 

“Kalau motor dikirim seperti itu sudah dibiasakan, mudah-mudahan kecelakaan bisa dikurangi. Ngeri juga melihat banyaknya kecelakaan sepeda motor akhir-akhir ini—“

 

Asti setuju, “Apalagi yang naik motor bertiga, berempat, karena kendaraannya cuma itu-itunya. Apalagi bawa anak kecil. Ngeri pisan—“

 

Bayu terdiam. Matanya tertuju pada berita di TV tapi sorot matanya seperti tak mengikuti. Mug teh-nya tak dihirup lagi.

 

Ia menghela napas.

 

“Ti.”

 

“Hm?”

 

“Kau tahu, aku sangat bersyukur dengan keadaan kita sekarang.”

 

Asti menoleh, menatap wajah suaminya dengan seksama.

 

“Kita mudik tak perlu  jauh-jauh. Tak bisa pakai motor, pakai angkot juga bisa. Coba bayangkan kita seperti mereka—“

 

TV sedang menayangkan kilasan berita tahun lalu saat arus mudik sedang penuh-penuhnya. Bayu memusatkan perhatian pada para pengendara motor.

 

“Kita cuma punya motor. Lalu, kau juga sedang hamil. Bayangkan kalau kita harus menempuh perjalanan jauh, macet, hujan—“

 

“Kang—“

 

“Dulu saat masih kecil, kami pernah mudik ke C dalam keadaan begitu. Masih pakai motor, kehujanan, dan Ibu ternyata sedang hamil dede Bagas. Tahu apa yang aku doakan saat itu?”

 

Asti menggeleng.

 

“Aku ingin dijauhkan dari keadaan seperti itu. Tak berapa lama, doaku terjawab. Ayah bisa mencicil mobil. Jadi mudik pun menjadi lebih mudah. Apa kau tahu apakah doaku terjawab sekali lagi?”

 

Asti menatap dengan rasa ingin tahu.

 

“Waktu menikahimu.”

 

Wajah Asti semakin penasaran.

 

“Karena aku dapet istri yang tidak usah mudik—“

 

Asli Asti melongo.

 

Suara Bayu serius, tapi ujung matanya menampakan seraut tawa.

 

“Akang mah!” akhirnya Asti ngeh, memukulinya dengan gemas.

 

“Hehe, tapi  bener kan? Dapet istri yang nggak usah mudik, yang nggak punya kampung. Jadi doaku terkabul lagi: nggak usah repot-repot macet, kehujanan, licin, berdesak-desakan—“

 

Tangannya merangkul Asti, suaranya berubah serius, tapi lunak, “Kita dianugerahi kemudahan. Mungkin bisa kita bagikan lagi kemudahan ini bagi yang lain. Misalnya, dengan diamanahi, dititipi kunci. Mungkin dengan dititip di kita, mereka jadi lebih tenang meninggalkan rumah—“

 

Asti mengangguk. Sungguh-sungguh.

 

Besok jika ada yang menitip kunci, rasa hatinya tentu berbeda. Kini.

 

SELESAI

 

Iklan

#ambu-dian, #cerita-pendek, #cerpen, #pulkam-2, #titip

#Cerpen: TWINKLE-TWINKLE LITTLE STAR

Berikut ini salah satu karya cerita pendek dalam sayembara cerita pendek @pulkam.

TWINKLE-TWINKLE LITTLE STAR

Suara kicauan burung dan gemericik air hujan yang turun, membuat Persia mengulat. Samar-samar, dia bisa mendengar suara yang sudah dikenalnya selama bertahun-tahun sedang menyanyikan lagu Twinkle-Twinkle Little Star.

Perlahan, dia pun membuka kedua matanya. Lelaki dengan kaos putih dan celana jeans biru terlihat sedang bernyanyi pelan sembari melihat ke langit-langit kamar. Cahaya sinar matahari yang masuk malu-malu melalui jendela yang kordennya sedikit tersingkap, semakin memberikan ketegasan pada rahang kokohnya.

girlmoon_and_star_1024x1024

“Nggak ada lagu lain lagi buat bangunin aku?” tanya Persia dengan nada geli sembari menyingkirkan rambut panjang dari wajahnya supaya dia bisa melihat lelaki di sampingnya dengan lebih jelas. Gelak tawa pelan terdengar indah di telinganya. Resonansinya seakan ikut menggetarkan jiwanya. Suara tawa favoritnya di seluruh dunia. Bahkan suara Morgan Freeman pun kalah telak menurutnya.

“Habisnya gimana dong? Masa kamu mau aku nyanyi lagu boyband korea favorit kamu itu? Ngerti artinya aja nggak.”

“Ya tapi masa dari 15 tahun lalu apalnya cuma itu doang? Beatles kek, Maroon 5 kek, Panbers kek, apa kek.”

“Bawel!” dengan segera, lelaki itu menggelitik tubuh Persia tanpa ampun. Suara gelak tawa yang sangat geli keluar dari mulutnya.

“Ampun, Mas. Ampuuunn…” dengan suara yang terputus-putus karena tawa, Persia berusaha menahan kedua tangan Gilang. Gilang akhirnya mengakhiri serangannya dan membiarkan Persia kembali bergelung di tempat tidur.

“Sekarang jam berapa sih?” tanya Persia sambil mencari-cari letak jam. Baru setahun lalu dia kesini tapi dia sudah lupa dimana letak jam dinding yang ada di kamar tidur ini.

“Jamnya disana, Cantik.” ujar lelaki itu sembari menujuk ke arah jam dinding yang ada di atas televisi, “Kayaknya kamu salah punya nama deh. Harusnya nama kamu tuh Dory, bukan Persia. Pelupa gini.” ujar Gilang sambil menggeleng.

“Enak aja!” sungut Persia sambil mencubit pinggang lelaki itu dengan sebal. Gilang hanya tertawa. Persia lalu melihat ke  arah jam dinding. Sudah pukul 06.30 pagi.

“Kok Mas nggak bangunin aku sahur sih?” sungutnya lagi.

“Ih, aku bangunin kamu kok. Kamunya aja yang nggak bangun-bangun.”

“Kurang kenceng banguninnyaaa…” rengek Persia, “Terus kalau aku nanti nggak kuat puasanya gimana?”

“Idih, kayak anak TK banget. Ya kuat lah asal niat.” tukasnya sambil mengusap kepala Persia. Persia tersenyum. Salah satu hal yang paling disukainya sejak dulu. Tangan yang besar itu seperti melingkupinya dengan kehangatan walaupun yang dilakukannya hanya menyentuh puncak kepala Persia. Persia sedikit banyak jadi mengerti kenapa jenis makhluk hidup yang memiliki nama sama dengannya itu terlihat sangat nyaman ketika ada orang yang menyentuh kepala mereka. Rasanya menyenangkan sekaligus menenangkan.

Persia mendadak merasakan tangan Gilang yang berhenti mengelus kepalanya. Lelaki itu turun dari tempat tidur dan berjalan menuju ke arah balkon.

“Sini deh. Lihat, pemandangannya bagus.”

Dengan dahi berkerut, Persia memandangi lelaki yang terlihat girang di balkon kamar. Gilang sama sekali tidak terlihat sudah 30 tahun. Kelakuannya yang seperti ini kadang membuatnya terlihat seperti masih berumur 5 tahun. Seakan kegirangan lelaki itu menular, Persia pun buru-buru turun dari tempat tidur untuk mengikutinya.

Dan benarlah. Pemandangan dari balkon villa tersebut memang luar biasa. Sawah yang menghijau terbentang luas di hadapannya, beserta dengan pohon-pohon hijau yang tinggi dan rimbun. Hanya ada suara kicauan beberapa burung yang beterbangan melewati mereka. Tidak ada suara kendaraan bermotor yang memekakkan telinga atau pula asap knalpot yang memuakkan. Rasanya begitu tenang, begitu damai.

“Enak ya disini.” bisikan Gilang dengan suara bass terdengar mengalun indah di telinganya. Kedua tangannya yang besar, memeluk Persia erat dari belakang. Persia menarik nafas panjang dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Gilang.

“Iya.” jawab Persia ikut mengiyakan. Selama beberapa saat, mereka hanya saling berpelukan sembari melihat pemandangan indah yang ada di depan. Pemandangan dari kota yang dianggap Persia sebagai kota penyembuh. Sangat jauh berbeda dengan suasana yang ditemukannya selama setahun belakangan di Jakarta. Kota yang selama ini dianggap Persia sebagai kota jahanam. Kota yang telah mengambil seluruh semangatnya, seluruh mimpinya, seluruh hidupnya. Dan disini, Persia menemukan penyembuh untuk jiwanya. Kota ini, beserta lelaki yang sedang mendekapnya saat ini.

Seharian itu, Persia melakukan hal-hal yang sudah dilupakannya selama setahun belakangan. Persia mengencangkan tali sepatunya untuk berlari pagi sembari memasukan oksigen segar sebanyak mungkin ke dalam paru-parunya yang sudah terkontaminasi dengan polusi udara. Berlari di pinggiran jalan yang masih terlihat sepi dengan sawah-sawah dan pepohonan yang menghiasi kiri dan kanan jalan memang sangat luar biasa. Saking menikmati lari paginya, Persia bahkan bahkan lupa kalau hari ini dia sedang berpuasa dan tidak sahur tadi pagi. Kedua kakinya seakan haus akan ayunan-ayunan cepat yang sudah tidak dilakukannya semenjak setahun lalu. Kibasan angin dingin dan kabut yang menerpa wajah serta tubuhnya, seakan-akan masuk melalui pori-pori dan membasahi seluruh organ dalam tubuhnya. Rasanya luar biasa segar.

Persia menoleh ke sampingnya. Lelaki yang memiliki tinggi 180 cm dan lebih tinggi 15 cm darinya itu terlihat sama-sama menikmati lari pagi mereka. Sesekali, dia menoleh ke arah Persia sambil tersenyum girang dan mengangkat kedua tangannya. Menikmati kesegaran udara yang jarang ditemuinya. Ah, betapa bahagianya.

Selesai berlari pagi, mereka kembali lagi ke villa. Persia yang biasanya sehabis lari pagi langsung mandi dan kembali tidur, kali ini tak mau menyia-nyiakan waktunya dengan tidur. Setelah mandi dan berganti baju, Persia pun berpamitan pada Gilang yang sudah meringkuk tertidur di atas tempat tidur sehabis mandi tadi.

“Aku ke pasar dulu sebentar ya.” ucapnya sambil mencium pipi lelaki yang dicintainya itu. Dengan senyuman yang tak bisa hilang dari wajahnya karena melihat lelaki itu menggeliat sambil mengerang, Persia pun keluar dari villa. Dia bertekad akan masak besar hari ini untuk merayakan kebersamaan mereka.

Sekitar satu setengah jam kemudian, Persia pun kembali pulang dari pasar. Berbagai macam sayuran, daging dan buah dibelinya.

“Kamu ngamuk gara-gara tadi pagi nggak sahur ya?” tanya Gilang kaget sembari melihat tumpukan belanjaan yang dibawa Persia. Persia hanya menjawab dengan cengiran khasnya yang memperlihatkan gingsul di bagian kanan atas giginya.

“Pokoknya hari ini aku mau masak enak!” serunya sembari meletakkan barang-barang yang baru saja dibelinya ke atas meja dapur. Kemudian, dia pun mulai asik mengeluarkan barang-barang belanjaannya dari kantong kresek sembari memikirkan masakan apa saja yang akan dibuatnya nanti.

“Aku jadi bagian penggembira aja ya.” ujar Gilang sambil duduk di belakang meja, mencoba menjauh dari teritori dapur. Sedetik kemudian, Twinkle-Twinkle Little Star kembali terdengar dan sontak membuat Persia tertawa geli. Tetapi lelaki yang duduk di belakangnya tak peduli. Dia terus bernyanyi walaupun suara bass rendahnya sama sekali tidak cocok menyanyikan lagu itu. Dia tetap bernyanyi walaupun nadanya sesekali terdengar sumbang.

Sembari ikut bersenandung mengikuti lagu Twinkle-Twinkle Little Star versi kacau di belakangnya, Persia dalam hati sangat bersyukur dengan semua yang terjadi di hari ini. Dia semakin yakin bahwa memang tak ada lelaki lain yang bisa membuatnya sebahagia ini. Tak ada hal lain lagi yang diinginkan Persia saat ini. Saat ini, menit ini, detik ini, hidupnya sudah kembali lengkap.

Dua hal yang sangat disukai Persia di dunia ini, memasak dan berbicara. Karena dua hal inilah dia bisa menjadi seperti sekarang ini, seorang chef yang juga memiliki acara talkshow di televisi tentang acara masak memasak. Dan saat ini, walaupun dia tidak sedang memandu acara talkshow-nya, dia tetap berbicara sambil memasak. Bercerita lebih tepatnya. Persia bercerita kepada lelaki yang dipunggunginya tentang semua hal yang terjadi padanya. Hal yang membuatnya bahagia, hal yang membuatnya resah, dan hal yang membuatnya sedih. Sedangkan lelaki di yang duduk di meja belakang hanya mendengarkan dengan seksama. Gilang sangat mengenal dan mengetahui bagaimana Persia. Persia tidak butuh diberi masukan. Persia hanya butuh di dengarkan.

Semakin banyak Persia bercerita sambil memasak, dia tidak sadar kalau hari cepat berlalu. Kalau saja lelaki itu tidak mengingatkan dan mengajaknya untuk shalat, mungkin Persia akan lupa melakukan kewajibannya itu.

Ketika maghrib tiba, Persia akhirnya mulai merasa kelelahan. Sembari melihat akun social media melalui gadget-nya untuk melihat jam berapa kira-kira waktu berbuka disini, Persia menarik kursi di samping Gilang dan mendudukkan dirinya disana sembari bersender pada bahu Gilang.

“Kayaknya belum buka deh.”

“Sebentar lagi kok.” Sahut Gilang sambil mengusap-usap kepala Persia, “Hebat kamu bisa masak segini banyak.” ucap Gilang sambil mencium puncak kepala Persia. Persia sampai tak mampu menyembunyikan cengiran lebarnya. Sudah banyak orang yang memuji kehebatannya dalam memasak, tapi tak ada pujian lain yang lebih membahagiakannya selain pujian yang diberikan Gilang untuknya.

Persia melihat ke meja yang ada di hadapannya. Meja yang beberapa jam lalu masih kosong, saat ini terlihat penuh dengan makanan dan minuman. Ayam bacem, sambal terasi, gudeg, kerupuk udang, mi goreng, dan nasi uduk terlihat memenuhi meja itu. Belum lagi ada es buah yang terlihat sangat segar yang juga berada disana.

“Kamu sengaja masak makanan kesukaanku ya?” tanya Gilang tiba-tiba, membuat Persia mendongak. Dia melihat ke arah lelaki yang saat ini menatapnya dengan tatapan yang sangat lembut. Persia mengangguk pelan.

“Ini hari kita, jadi aku harus ngelakuin sesuatu yang bikin Mas juga senang. Dan karena Mas selalu protes kalau makanan kesukaanku itu terlalu ‘kebarat-baratan’, jadi yah, aku masak masakan kesukaan Mas.” jawab Persia sambil mengangkat bahunya.

Lelaki itu menatapnya selama beberapa saat. Tangannya kemudian meraih tangan Persia yang terkulai.

“Berada di samping kamu saat ini, udah cukup bikin aku bahagia. Sangat bahagia.” tukasnya sambil menggenggam erat jemari Persia, “I love you. So very much.”

Persia merasakan gelombang perasaan yang bergejolak dan membuncah dengan amat sangat setelah mendengar kata-kata Gilang. Dia mengulangi kata-kata tersebut di kepalanya. Kata-kata yang sepertinya sudah lama sekali tidak didengarnya.

Suara bel pintu yang tiba-tiba, mengagetkan keduanya. Tadinya Persia sama sekali tidak berniat membukanya tapi bunyi bel yang terus-terusan tanpa henti lama-lama membuatnya kesal juga.

Dengan kekesalan yang menumpuk karena perut lapar dan capek luar biasa, Persia pun membuka pintu. Selama beberapa detik, Persia hanya bisa menatap kaget ke arah seseorang yang berdiri di depan pintu.

“Kamu ngapain disini?” tanyanya kaget sekaligus bingung. Ternyata Aldo, adiknya, yang datang. Kalau saja dia tidak melihat bagaimana raut wajah Aldo sekarang, mungkin Persia akan langsung mengomel padanya karena sudah menghancurkan mood-nya bersama Gilang. Tapi Persia mengurunkan niatnya karena dia melihat Aldo berdiri dengan keringat menetes di wajahnya. Nafasnya juga terengah-engah dan dia terlihat panik.

“Kakak kenapa mendadak ngilang sih? Semua orang di rumah panik nyariin kakak dari tiga hari yang lalu!” bentaknya. Persia sedikit terlonjak mendengar bentakan tiba-tiba dari adik yang usianya 3 tahun dibawahnya itu.

“Kamu tuh udah tiba-tiba dateng, malah marah-marah gini! Sapa dulu kek, salam dulu kek, apa kek!”

“Ayo kita pulang sekarang!” Aldo tiba-tiba saja menarik tangan Persia tapi Persia langsung menepisnya dengan kasar.

“Apaan sih Do? Jangan seenaknya nyuruh-nyuruh orang deh! Lagipula kamu ngapain sih panik kayak gini? Aku cuma pergi sebentar sama Mas Gilang emangnya nggak boleh?!” bentak Persia kesal. Aldo langsung mematung selama beberapa saat setelah mendengar kata-kata kakaknya.

“Apa?”

“Gini ya Do, aku tuh sekarang statusnya udah jadi istri. Jadi aku nggak perlu izin lagi dari Ayah atau Ibu kalau mau pergi. Udah sana kamu pulang! Ganggu orang aja malem-malem. Aku laper banget nih belum buka puasa!”

“Kakak… datang sama siapa?” tanya Aldo dengan nada memastikan.

“Mas Gilang!” jawab Persia kesal, rutuknya kesal sambil mencoba melepaskan tangan Aldo, tapi adiknya sama sekali tidak melepaskannya. Dia malah semakin mempererat genggaman tangan di lengannya.

“Do! Lepasin! Sakit tau!”

“Kak…” Aldo memegang kedua bahu Persia dengan erat. Dia menatapnya dalam-dalam, “Coba Kakak ingat-ingat lagi. Kakak kesini sama siapa?”

“Astaga ini anak… Udah dibilangin sama Mas Gilang! Mas Gilang! Tau kan Mas Gilang siapa? Kakak ipar kamu! Suami aku! Udah ah buruan lepasin! Aku laper banget!”

Aldo kembali terdiam selama beberapa saat tapi genggaman tangannya di kedua bahu Persia semakin erat.

“Kak, Mas Gilang udah nggak ada sejak setahun lalu.” ujar Aldo pelan. Persia mengerutkan dahinya.

“Ngomong apa sih kamu?”

“Mas Gilang… meninggal karena kecelakaan setahun lalu, Kak…” ujarnya lagi. Butuh waktu untuk Persia selama beberapa saat untuk mencerna perkataan Aldo barusan. Persia menggeleng kencang.

“Kamu jangan ngomong sembarangan ya Do! Aku tahu kamu nggak pernah suka sama Mas Gilang dari dulu, tapi aku nggak akan maafin kamu kalau kamu ngomong yang nggak-nggak tentang Mas Gilang!”

“Kak….”

“Mas Gilang ada disini! Dia ada disini sama aku!”

“Kak….”

“Maaasss… Mas Gilaaanngg…” Persia mulai memanggil Gilang dengan suara kencang, “Aldo mau ketemu Maaass,,, Mas Gilaanngg…”

Tak ada sahutan sama sekali. Kepanikan mendadak merayapi Persia. Dia pun melepaskan pegangan Aldo dari kedua bahunya.

“Maass… Mas Gilaaanngg…” sambil terus memanggil suaminya, Persia masuk ke ruangan-ruangan yang ada di dalam, tapi Gilang tak juga menyahut walaupun sudah berkali-kali dipanggil.

“Kak…”

“Mungkin Mas Gilang lagi keluar sebentar karena ada perlu. Kamu tunggu dulu disini, nanti juga Mas Gilang balik.”

“Kak…”

“Kamu sabar dong! Aku udah bilang Mas Gilang lagi keluar sebentar!” bentak Persia dengan kencang dan nafas yang terengah-engah. Tapi Aldo seakan tidak mendengar kata-kata Persia barusan. Bukannya duduk dan menunggu dengan tenang, wajah Aldo malah terlihat sedih. Dia hanya memandangi kakak satu-satunya itu dengan tatapan nanar. Tatapan yang sangat dibenci oleh Persia. Tatapan yang… selama ini berusaha dihindarinya?

Persia membuang muka dan melihat ke arah lain. Muak dengan tatapan yang baru saja dilihatnya dari kedua bola mata adiknya. Dia melihat kesana kemari. Ke arah manapun kecuali adiknya. Dan dia berharap Gilang tiba-tiba akan keluar dari salah satu ruangan. Ya, Gilang pasti hanya mengerjainya saja. Dia pasti sedang sembunyi di satu tempat karena memang itu yang sering dilakukannya dulu.

Sembari masih mencari-cari sosok suaminya, mata Persia tiba-tiba terpaku pada makanan-makanan yang ada di atas meja dapur. Dia hanya berdiri mematung sambil memandangi hasil karyanya. Rasa dingin yang amat sangat tiba-tiba merayapi punggungnya dan tubuhnya mendadak gemetaran tanpa henti.

Perlahan, Aldo berjalan mendekat ke arah Persia. Dia merengkuh tubuh kakak perempuannya itu dengan erat. Berharap bahwa kakaknya akan cepat kembali tersadar ke dunia nyata.

Potongan-potongan gambar kemudian seakan masuk ke dalam pikiran Persia. Dirinya dan Gilang yang sedang berbulan madu di Ubud ketika bulan puasa tahun lalu, kebahagiaan mereka berdua yang baru saja menjadi pasangan suami istri, dan kemudian suara klakson mobil yang meraung-raung serta hentakan kuat yang membuat Persia terguncang hebat.

Saat itu masih tengah malam, tepat dua jam sebelum sahur. Mereka sedang berada di jalan tol dari bandara Soekarno Hatta menuju rumah setelah sepulang dari perjalanan bulan madu. Persia yang setengah tertidur saat itu, hanya mengingat suara klakson yang meraung tiba-tiba. Hal berikutnya yang dia rasakan adalah hentakan kencang dan bunyi kaca pecah dimana-mana. Kemudian dia tidak sadarkan diri, entah sampai berapa lama. Dan begitu dia sadar, statusnya sudah berubah. Dia tidak lagi menjadi seorang istri.

Ingatan pun mulai menyeruak masuk membanjiri kepalanya. Dia tak lagi sanggup berbicara pada orang lain apalagi memasak. Dia tinggalkan semua hal yang membuat Gilang jatuh cinta padanya. Dia juga tidak mengetahui apa yang dia lakukan selama setahun belakangan. Potongan gambar yang masuk ke kepalanya tidak sejelas tadi. Yang dia tahu, tiba-tiba saja dia sudah berada disini. Bersama Gilang.

Tiba-tiba terdengar suara Gilang yang menyanyikan Twinkle-Twinkle Little Star dari arah dalam. Persia langsung mendorong tubuh Aldo dengan seluruh kekuatannya. Dia berlarian kesana kemari mencari arah suara itu dengan dada berdegup kencang. Gilang ada disini!

Setelah berlarian kesana kemari dan tidak juga menemukan sosok lelaki bertubuh tinggi itu, Persia mulai melambatkan langkahnya. Matanya terpaku ke arah tempat tidur kesayangannya itu. Langkahnya terhenti begitu melihat handphonenya yang tergeletak di kasur dengan lampu LCD yang menyala.

Seperti ditarik oleh magnet, perlahan Persia naik ke tempat tidur dan meraih handphone-nya. Terlihat di layar handphone kalau Ibunya meneleponnya, tapi bukan itu yang dilihat Persia. Dia hanya berkonsentrasi mendengarkan suara nyanyian suaminya yang nadanya terdengar kacau. Setahun lalu ketika mereka berbulan madu disini, mereka sepakat untuk mengganti ringtone handphone mereka dengan suara masing-masing yang sedang menyanyikan Twinkle-Twinkle Little Star.

Persia hanya memandangi handphone ditangannya selama beberapa saat lalu memeluknya erat di dada. Dengan suara pelan, dia pun ikut mengiringi dan menyanyikan lagu kenangan mereka berdua dengan tatapan kosong.

“Twinkle, twinkle, little star,

How I wonder what you are.

Up above the world so high,

Like a diamond in the sky…”

 

 

 

 

Meitya Putri (Twitter : @si_memet)

#cerpen, #pulkam-2