#Cerpen: Titip

vitrase

 

TITIP

Ambu Dian

-o0o-

 

Sambil menumpukkan piring-piring kotor usai sahur dinihari, Asti melongok sedikit ke jendela. Jendela besar, tirainya sudah dibuka, tetapi masih dihalangi vitrase tipis, sehingga isi rumah tak jelas terlihat dari luar.

 

Ada keriuhan di rumah seberang. Rumah bu Puji.

 

Sepertinya, mobil jemputan mudik untuk kedua asisten—begitu bu Puji selalu menyebut mereka, maksudnya sih pembantu—sudah datang. Sepertinya lagi, kedatangannya sudah ditunggu-tunggu, karena begitu mobil berhenti, kedua pembantu itu langsung muncul. Dengan busana agak-agak norak hasil belanjaan kemarin, kedua mbak-mbak itu memasukkan barang bawaannya ke dalam bagasi—banyak dus dan tas kain.

 

Setelah janji tak akan telat kembali, janji akan membawa saudara dari kampung untuk asisten di rumah adiknya bu Puji, dan entah apa lagi yang mereka bicarakan dengan ribut, akhirnya mereka naik juga ke mobil. Dan pergi.

 

Keadaan di luar kembali sepi.

 

Di luar. Soalnya, sepertinya di dalam rumah bu Puji dan anak-anaknya menyambung keriuhan tadi. Tak terdengar apa saja yang mereka ributkan, tetapi sepertinya Asti bisa menebak: gerutuan karena mereka selama sepuluh harian ini harus mengerjakan semua sendiri, lalu pertengkaran tentang siapa-melakukan-apa-saat-kapan.

 

Sudah biasa.

 

Sepertinya tiap menjelang Lebaran, kejadiannya begitu. Lalu hari-hari berlalu dengan perselisihan tentang si anu tidak menjalankan tugasnya, atau tugas tidak dilaksanakan dengan baik, atau blablablabla. Dan diakhiri dengan keluarga itu kemudian pindah ke hotel terdekat agar praktis. Dan keriuhan di kompleks sedikit mereka.

 

Menyeringai. Asti membawa tumpukan piring ke dapur, kembali ke ruang makan sambil membawa lap basah. Dibersihkannya meja sambil berjanji, sebelum jam 12 nanti ia sudah mencuci piring, tidak ditunda-tunda. Habis, udara dingin sekaliiii!

 

Selesai Asti membersihkan meja, Bayu keluar dari kamar mandi dengan wajah segar. “Sudah ada kabar apa dari Paguyuban Ibu-Ibu di Tukang Sayur?” tanyanya sambil nyengir.

 

Dibalas nyengir juga, Asti menggeleng, “Tukang sayur belum datang. Itu, barusan mbak-mbaknya ibu Puji dijemput mudik—“

 

Cengiran Bayu berubah jadi tawa kecil, “Dan kita akan lebih sering mendengar drama keluarga dari depan sana—“

 

Asti turut tertawa.

 

Tapi Bayu kemudian terdiam. “Sudah—tanggal berapa sekarang? Kalau sudah mulai ada jemputan mudik, kalau sudah mulai terlihat pembantu berpulangan, berarti kita harus mulai siap-siap—“

 

Asti mengangkat bahu. “Tanggal dua. Atau—tanggal duapuluh empat Puasa?” sahutnya ragu sambil menghitung hari.

 

Harus mulai siap-siap. Tepatnya, mulai menerima titipan kunci.

 

Di komplek itu bisa dibilang cuma mereka yang tidak punya kampung halaman. Tepatnya, tidak akan mudik. Keluarga Asti semua ada di kota B ini. Ibunya—ayahnya sudah meninggal, tinggal beda komplek. Paman-paman dan bibi-bibi, uwa-uwa dan saudara lain menyebar di seantero kota B. Ada juga sih yang tinggal di ibukota, tapi tentu saja mereka yang akan pulang mudik ke kota B. Bisa dibilang, Asti semasa gadis tidak kenal kata mudik. Tidak punya kampung.

 

Keluarga Bayu sendiri sebetulnya berasal dari C. Ayah ibunya sudah lama bermukim di B tapinya. Lama kelamaan dengan meninggalnya satu demi satu tetua di lembur, acara ngumpul lebaran justru diadakan di rumah Ibu—setelah Ayah juga meninggal. Kondisi Ibu sekarang yang sering sakit-sakitan, membuat anak-anak bersepakat untuk tidak membawa Ibu mudik ke C saat lebaran. Biar saja saudara-saudara dari C yang datang. Biar saja kalau Ibu memang mau menengok kampung halaman, bisa pergi di lain waktu di saat jalanan tidak macet, tidak di musim mudik.

 

Kalaupun mudik itu artinya kembali ke rumah orangtua, berarti mudik mereka cuma berjarak dua kilometer—ke Ibunya Asti, atau lima kilometer—ke Ibunya Bayu.

 

Sejak mereka tinggal di komplek itu, dan sejak banyak yang tahu kalau mereka tidak mudik, maka mulailah acara titip kunci berlangsung. Mulanya tetangga sebelah kiri-kanan. Tetangga kiri, di rumahnya banyak burung. Saat mereka mudik, ada orang yang datang untuk memberi makan burung, tiap pagi. Kunci dititip di Asti. Tetangga kanan, rumah ada yang menunggui, tapi hanya malam. Jadi, pagi-pagi kunci dititip di Asti.

 

Lalu mulai menyebar, tetangga sebelah sono, tetangga di perempatan, dan seterusnya, dan seterusnya. Keperluannya macam-macam, dari mulai memberi makan burung, ada barang titipan, dan seterusnya.

 

Asti tersenyum pahit. “Titipan kunci lagi ya, kang?”

 

Bayu merangkulnya, “Kenapa, sirik sama yang bisa mudik?”

 

Tertawa kecil, Asti menggeleng.

 

“Ya sudah, aku ke kantor dulu. Takut keburu macet. Hari terakhir ngantor, pasti pekerjaan numpuk—“ Bayu membenahi kemejanya. Mengenakan jaket, dan meraih ransel laptopnya. Mengecup kening istrinya, lalu menuju sepeda motornya. Mengenakan helmnya.

 

“Nanti sore buka di rumah, kang?” tanya Asti.

 

“Mudah-mudahan. Aku usahakan. Tapi kalau pekerjaannya bertumpuk, mungkin pulangnya agak malem—“

 

“Ya sudah,” Asti mencium tangan suaminya, membuntuti sepeda motornya hingga ke luar ke jalan, menutup pintu pagar, dan berdiri mengawasi hingga motornya lenyap dari pandangan.

 

Berniat untuk membereskan teras depan, baru saja akan mengambil sapu dan lap pel, ketika dilihatnya dari ujung jalan beberapa mbak tertawa-tawa antar mereka. Penampilan mereka berbeda dengan hari-hari biasa, biasanya kucel seadanya, sekarang rapi berdandan. Bahkan sepertinya mereka pakai make up, walau bisa dibilang norak.

 

Sudah pasti dengan bawaan, tas pakaian, dus-dus bekas mi instan. Asti tersenyum kecil. Untung rumahtangganya belum perlu pakai pembantu, kalau tidak tentunya dia sudah harus memikirkan repotnya kalau pembantu pulang. Tahun depan mungkin perlu, pikirnya, sambil mengelus perutnya—kehamilannya belum terlihat jelas.

 

“Bu Astiiiii,” seru mereka serempak saat melewati rumah. Umur yang tak begitu beda jauh membuat mereka cepat akrab, walau mereka nampak masih menaruh rasa hormat. Mungkin karena mereka melihat Asti punya pendidikan yang lebih, tapi tetap ramah pada mereka?

 

“Hei, mbak Siti, mbak Ayu, Yu Inah, pada pulang sekarang?” sahutnya ramah.

 

“Iya, Bu Asti, titip ibu-ibu kami ya?”

 

Hihi. Ini malah titip majikannya, Asti tersenyum lebar. “Hati-hati di jalan ya, apalagi kalau pegang uang—“

 

“Beres Bu,” sahut Yu Inah, “lagian sekarang uangnya kita kirim pakai transper, Bu, itu loh yang dimasukin ke kantor bank seberang komplek itu—“

 

“Iya, Bu, jadi sekarang kita cuma pegang pas buat ongkos aja. Nggak khawatir kecopetan,” timpal mbak Siti.

 

Pembantu sekarang juga sudah mulai pinter, Asti bersyukur. “Alhamdulillah. Ya sudah, hati-hati di jalan—“

 

Setelah dadah-dadah, rombongan itu lewat sudah.

 

-o0o-

 

Sehabis Jumatan, kali ini ibu-ibu yang mau mengantar anaknya mudik. Jadi, karena hari ini hari terakhir anak-anak sekolah, siang atau sorenya mereka mulai bergerak mudik. Ibu-ibu dan anak-anak. Ayah-ayah belum bisa mudik karena masih banyak yang harus bekerja. Malah ada juga yang baru dapat cuti H-1, sedih—

 

Karena rumah-rumahnya masih berpenghuni, ibu-ibu itu cuma titip pesan saja, bahwa mereka mudik, dan ayah-ayah nanti menyusul tanggal sekian-sekian. Punten kalau lewat rumah, tolong diawasi. Apalagi kalau nanti ayah-ayah mudik.

 

Asti sudah merasa jadi pak RT saja jadinya. Ya memang pak RT masih ada, tapi biasanya pas hari lebarannya, beliau pergi ke kampungnya. Deket sih, sejam juga sampai, dan biasanya tidak lama, besoknya beliau juga sudah muncul lagi, tapi kesannya jadi dia satu-satunya yang tidak mudik…

 

Sudah selesai shalat tarawih ketika Bayu akhirnya pulang. Terlihat lelah, tetapi juga puas.

 

“THR udah masuk rekening, Ti. Trus libur sampai tanggal 12. Ayo, kita mau belanja apa dulu?”

 

Asti tertawa. “Perasaan baju masih banyak, dan bagus-bagus. Simpen saja buat bekel si dede,” Asti mengelus perutnya yang masih nampak rata. Bayu ikutan tertawa, mencium perut Asti.

 

“Paling tidak, buat ngasih Ibu dan Mamah. Trus, mungkin sama mang Endang, tukang kebun kita. Jangan lupa keluarin zakat fitrah sama zakat mal-nya.”

 

“Baik, Yang Mulia!” Asti menyahut takzim.

 

Sambil berganti baju, Bayu tertawa lagi.

 

Berjalan menuju ruang tengah, Asti membuatkan teh manis sambil menawarkan apakah Bayu masih mau makan. Bayu malah menyalakan TV dan mulai menyimak berita.

 

“Tadi siang, aku lihat di berita, banyak yang punya motor malah dikirim ke kampung via kereta api. Orangnya nanti nyusul naik kereta atau bis—“ Asti menyusul duduk di depan TV sambil mengangsurkan mug teh manisnya. Sambil menyeruput teh, Bayu mengangguk.

 

“Kalau motor dikirim seperti itu sudah dibiasakan, mudah-mudahan kecelakaan bisa dikurangi. Ngeri juga melihat banyaknya kecelakaan sepeda motor akhir-akhir ini—“

 

Asti setuju, “Apalagi yang naik motor bertiga, berempat, karena kendaraannya cuma itu-itunya. Apalagi bawa anak kecil. Ngeri pisan—“

 

Bayu terdiam. Matanya tertuju pada berita di TV tapi sorot matanya seperti tak mengikuti. Mug teh-nya tak dihirup lagi.

 

Ia menghela napas.

 

“Ti.”

 

“Hm?”

 

“Kau tahu, aku sangat bersyukur dengan keadaan kita sekarang.”

 

Asti menoleh, menatap wajah suaminya dengan seksama.

 

“Kita mudik tak perlu  jauh-jauh. Tak bisa pakai motor, pakai angkot juga bisa. Coba bayangkan kita seperti mereka—“

 

TV sedang menayangkan kilasan berita tahun lalu saat arus mudik sedang penuh-penuhnya. Bayu memusatkan perhatian pada para pengendara motor.

 

“Kita cuma punya motor. Lalu, kau juga sedang hamil. Bayangkan kalau kita harus menempuh perjalanan jauh, macet, hujan—“

 

“Kang—“

 

“Dulu saat masih kecil, kami pernah mudik ke C dalam keadaan begitu. Masih pakai motor, kehujanan, dan Ibu ternyata sedang hamil dede Bagas. Tahu apa yang aku doakan saat itu?”

 

Asti menggeleng.

 

“Aku ingin dijauhkan dari keadaan seperti itu. Tak berapa lama, doaku terjawab. Ayah bisa mencicil mobil. Jadi mudik pun menjadi lebih mudah. Apa kau tahu apakah doaku terjawab sekali lagi?”

 

Asti menatap dengan rasa ingin tahu.

 

“Waktu menikahimu.”

 

Wajah Asti semakin penasaran.

 

“Karena aku dapet istri yang tidak usah mudik—“

 

Asli Asti melongo.

 

Suara Bayu serius, tapi ujung matanya menampakan seraut tawa.

 

“Akang mah!” akhirnya Asti ngeh, memukulinya dengan gemas.

 

“Hehe, tapi  bener kan? Dapet istri yang nggak usah mudik, yang nggak punya kampung. Jadi doaku terkabul lagi: nggak usah repot-repot macet, kehujanan, licin, berdesak-desakan—“

 

Tangannya merangkul Asti, suaranya berubah serius, tapi lunak, “Kita dianugerahi kemudahan. Mungkin bisa kita bagikan lagi kemudahan ini bagi yang lain. Misalnya, dengan diamanahi, dititipi kunci. Mungkin dengan dititip di kita, mereka jadi lebih tenang meninggalkan rumah—“

 

Asti mengangguk. Sungguh-sungguh.

 

Besok jika ada yang menitip kunci, rasa hatinya tentu berbeda. Kini.

 

SELESAI

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s