Profil Kontributor Linimasa: Senjakalasaya

Tentang “Saya”Senjakalasaya, begitulah saya ingin disebut. Sebab pertukaran nama hanyalah basa-basi belaka. Tahu nama tidak lantas kenal, bukan? Biasanya dengan alasan “kenal” orang akan mulai berani memaksakan “kebaikan” versinya pada orang lain, tanpa mempertimbangkan apakah kebaikan versinya itu “benar-benar” baik bagi orang lain. Autocratic behavior, dalam pandangan saya, telah menjadi bagian dari “rerata kultur” hubungan antar manusia di zaman waras ini. Itulah mengapa, penghakiman atas segala sesuatu yang berbeda selalunya muncul. Maka bila berkenan, saya hendak dibiarkan untuk tidak menggunakan nama yang didiktekan pada saya semenjak kecil. Bukankah kebenaran itu tidak terletak pada sekedar nama? Tetapi lebih kepada nilai sikap dan perbuatan.

Sayangnya, dalam kultur yang sudah terlalu waras ini (kultur yang terbangun dalam lingkar sosial saya khususnya) Nilai tidak lagi dilekatkan pada nilai itu sendiri. Tetapi nilai sudah dilekatkan pada sosok; Bila saya menggunakan segala atribut keagamaan, dan melakukan ritual keagamaan dengan rutin, meski saya melakukannya atas dasar kepura-puraan, maka “nilai baik suci” serta merta akan dilekatkan pada sosok saya, lantas dengan nilai itu dengan mudahnya orang-orang akan mengikuti segala petuah saya, meskipun petuah itu hanyalah rekayasa logika semata. Begtitulah kuatnya tanda semiotika, mampu mencerabut nalar orang banyak.

Di sisi lain, Nilai, dalam kultur yang sudah terlalu waras ini, tidak lagi dilekatkan pada nilai itu sendiri, melainkan, dilekatkan sepenuhnya pada “rasa suka atau tidak suka” dalam dimensi intrapersonal orang-orang. Katakanlah, Orang-orang yang mengenal lalu menyukai atau menyayangi saya, maka apa yang saya ucapkan dan lakukan akan dapat diterima orang-orang. Pemakluman-pemakluman akan dilahirkan kemudian. Bagaimana orang tua akan membela mati-matian anaknya yang berbuat salah. Atau seorang kekasih yang membela kekasihnya, meski ia tau kekasihnya berlaku salah. Atau golongan, katakanlah partai, akan membela mati-matian golongannya, meski mereka sadar bahwa oknum dalam golongannya itu berlaku salah. Pemakluman-pemakluman berlaku lazim kemudian.

Lalu katakanlah, ketika seseorang itu sudah tidak lagi disukai, maka segala apa yang diucapkan dan dilakukannya, selalunya akan dirasa salah; meski sekalipun apa yang diucapkan dan dilakukannya itu benar. Tuduhan akan lahir kemudian, tudahan semisal “pencitraan”, “berpura-pura”, “palsu”, “bahaya”, “Laten” dan sebagainya akan lazim dilahirkan. Begitulah “rasa suka atau tidak suka” itu begitu kuatnya mencerabut “objektivitas” penilaian orang banyak. Meski objektivitas itu hanyalah kumpulan dari subjektivitas orang-orang yang berpandangan sama lalu membentuk nilai sebagai tolak ukur yang disepakati.

Belum lagi, kewarasan yang dibentuk gempuran media sosial yang tak dibarengi dengan pendidikan literasi yang holistik, telah membiasakan orang untuk memuja “cara berpikir asosiatif.” Orang-orang gemar mengaitkan apa yang dibacanya, dilihatnya dengan dirinya sendiri. Orang-orang suka memaksakan ruang idea dan impresi orang lain dengan miliknya; Merasa tersindir, merasa apa yang dibacanya itu ditujukan pada dirinya, menjadi lazim, Negara api menyebutnya dengan istilah “Baper”. Cara berpikir asosiatif yang salah kaprah ini, akan bertambah-tambah dampaknya bila si pembaca itu mengenal entitas serta identitas penulisnya. Maka bila berkenan, izinkanlah, menggunakan akun anonymous saja. Sebab ianya dapat memberikan “kebebasan yang bertanggung jawab pada diri sendiri” (seingat saya, saya pernah membaca tentang ini dari Om Roy), tanpa harus “dipenjara” oleh ketakutan atas prasangka orang lain.

Maka perkenalkan, Saya; senjakalasaya. Hidup dan tinggal di kota yang jarang masuk dalam layar kaca. Membaca dan menulis menjadi kebutuhan pribadi, sebab dirasa sayang bila mati sebelum mengetahui banyak hal. Saya sering menikahi novel dan karya-karya sastra hingga imajinasi otak kanan lebih aktif. Otak kiri saya masih dipenuhi semak-semak wortel belukar, sesekali jagung tumbuh juga. Oleh karenanya saya lebih sering memproduksi cerpen dan puisi sebagai produk budaya saya.

Oleh sebab pekerjaan sudah menjadi identitas yang mencerabut manusia kedalam atribut yang dibawa oleh identitas itu; hingga identitas pekerjaan itu telah menjadi pengganti atas entitas manusia; semisal dokter selalunya akan dipandang sebagai entitas yang lebih baik dari pemulung. Maka izinkan saya untuk tidak menyebutkan pekerjaan saya. Cukup ditahu saja, saya mencari uang untuk membeli buku dan makanan supaya tetap hidup dengan jalan yang halal menurut saya.

Rumit dan kompleks, begitu selalunya orang dilingkar saya menstigma. Tetapi bukankah setiap orang, punya sakitnya sendiri? hanya saja orang sering menutup-nutupinya agar terlihat “normal” di “rerata kultur” yang sudah terlalu waras ini.

Terimakasih Om Roy, semoga selalu sehat organik dengan sayurnya.

 

Iklan

Harusnya

Harusnya saya rajin untuk bukan saja ngeblog, melainkan juga menulis buku. Supaya menghasilkan materi yang lebih “terasa”.  Sayangnya saya ndak terlalu suka melucu via buku. Bukan kebahagiaan yang hakiki saat menjual buku tersebut dan kemudia orang membacanya lalu ada yang membelinya lalu ada yang meminta tandatangan penulis. Terlebih lagi jika tulisan saya ternyata memang tidak lucu. Ini memperkuat saya untuk berdalih bahwa ngeblog berbeda dengan menulis atau bahkan menjadi novelis. Ngeblog lebih cenderung memberikan gagasan, ide, bahan diskusi yang nilai kematangannya masih medium rare. Ada yang merasa itu sudah lebih dari cukup. Ndak perlu dimasak lagi hingga well done.