HomeSchooling: Tidak Semuanya Baik

Kemarin, setelah saya tuangkan dalam tulisan tentang HomeSchooling, rekan saya berkomentar, bahwa HS juga tidak semuanya bagus, dan ia berkomentar sebagaimana berikut ini:

“Para orang tua juga tetap harus hati-hati dengan model HS yang klasikal. Sebab ada juga beberapa yang nakal. Sesungguhnya mereka lebih mirip dg bimbingan belajar saja, ada juga yang lalu berlaku seperti sekolah reguler, membuka kelas, raport, serta kegiatan lainnya dg kurikulumnya sendiri. Sepertinya mereka ini berlindung dibalik sistem HS utk menyelenggarakan sekolah gelap, tanpa ijin. Walau mungkin niatnya baik tapi bisa jadi motifnya uang.

Menurut saya, tetap harus teliti sebelum memilih kelompok HS. Kalau ragu paling baik HS mandiri, kalau dianggap belum mencukupi maka dibantu guru private. Menjelang ujian UAN baru ikut bimbel & lakukan try out. Demikian, semoga berguna.”

salam,
Roy

tulisan sebelumnya:
http://linimasa.com/2011/07/09/homeschooling-siapa-takut/

Sent from my iPad

Iklan

HomeSchooling, Siapa Takut?

Liburan sekolah usai sudah. Bagi Anda yang telah memiliki anak usia sekolah, waktu liburan begitu berharga hingga Anda rela untuk cuti kerja demi berkumpul bersama keluarga. eh itu saya ding. Bahkan rela berhenti ngetwit. 🙂

Lantas apa yang bisa dipelajari dari liburan sekolah? Bagi saya, liburan banyak hikmahnya. Anak yang sekian waktu dititipkan pada siang hari pada lembaga pendidikan bernama “sekolah” dapat dilihat dan kita ukur kemajuannya. Terkadang malah kita mendapati si buah hati mendapatkan karakter beda yang tak dibawa dari rumah menuju sekolah, namun dari sekolah yang ditularkan di rumah. Saya maklum, pergaulan anak dengan teman-temannya tentu saja saling pengaruh-mempengaruhi.

Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hati. Anak saya mengeluh tentang berbagai pelajaran, dengan beratnya tugas tugas yang diberikan. Sekolah menjadi suatu rutinitas yang akhirnya membuat mental anak terbebani dan tidak selalu riang. Apakah ada yang salah dengan pendidikan sekolahnya? Guru-gurunya? teman-temannya?

Selain itu, si anak juga selama liburan menurut saya begitu bersemangat, seperti terbebas dari vonis mati ala negeri Arab Saudi. Bebas, menghabiskan waktu bersama sepupu-sepupunya yang kebetulan juga liburan, dan sepertinya, dalam benak saya, anak saya ini sudah mirip saya yang sudah tua dan bekerja manakala selesai presentasi dan menghabiskan waktu merayakan hilangnya beban dengan berhahahihi bersama rekan.

Bagi anak saya, liburan jadi mirip menikmati surga dengan waktu beberapa minggu. Bertemu dengan saya, dengan bundanya, dengan adiknya, sepanjang hari, sepertinya begitu membuatnya gembira.

Lantas, tanpa sengaja saya dan rekan berdiskusi kemarin, bicara liburan, bicara anak, bicara pendidikan, dan sampailah pada satu kata. Home School. Home Schooling. Sekolah yang Membebaskan, menurutnya.
Hmmmm, menarik!
Mari kita kupas apa sih home shooling menurut rekan saya itu.
Untuk Anda, saya cuplik pendapatnya, berikut ini.

“Berbagi pengalaman sedikit, tahun lalu anak saya yang sulung tiada angin dan hujan dinyatakan tidak naik kelas. Usut punya usut ternyata masalahnya ada seorang guru yang entah kenapa memusuhi anak saya dan berkomplot dengan 4 guru lainnya. Akibatnya 5 pelajaran sekaligus nilai anak saya dijatuhkan. Bukan karena bodoh, tidak mengikuti ujian, bolos atau kriminal, masalahnya tugas yang dikumpulkan ditolak tanpa alasan. Sekolah ternyata memihak guru dan tidak bisa menjamin kejadian itu tak terulang. Saya marah, apalagi terungkap bahwa wali kelas walaupun ingin menaikkan tapi rapat memutuskan anak saya dianggap akan mempengaruhi ‘prestasi lulus UAN 100%’.

Di alam demokrasi seperti ini dimana perbedaan pendapat adalah lumrah, apalagi di lembaga akademik seperti sekolah, perilaku feodal semacam ini sungguh tidak dapat dimengerti dan tidak patut untuk ditoleransi dengan alasan apapun.

Karena anak saya telah mendapat stigma semacam itu maka sekolah lain enggan menerima dan tidak mau capek mendengar apalagi memahami versi sudut pandang kami sebagai siswa maupun orang tua. Kesimpulan saya, mereka semua brengsek, sama saja hanya mau uang dan tidak ada semangat idealisme sebagai pendidik dan pola yang mereka pahami hanya metode menghukum, mengancam, memberi sanksi.

Akhirnya saya mencoba HS. Dalam sistem ini sesuai UU Sisdiknas orang tua adalah pihak yang paling berhak dan sekaligus berkewajiban terhadap pendidikan anak. Jadi, siapakah gurunya? Sayalah, orang tualah yang menjadi guru yang bersama anak mendiskusikan, menyepakati sengan anak untuk melaksanakan HS mulai kurikulum, mata pelajaran, cara atau metode belajar, waktu serta penilaian, pendeknya semua aturan main.

Anak bebas memilih mempelajari hanya hal yang diminatinya serta menetapkan sendiri targetnya. Misalnya untuk bisa dapat ijazah maka dia harus mengikuti UAN Paket C SMA maka mau tak mau harus belajar kurikulum materi pelajaran mata ujian UAN seperti di sekolah. Ketika itu dia juga dibantu dengan latihan soal di bimbingan belajar.

Salah satu kelebihan HS adalah adanya banyak pilihan dan fleksibilitas misalnya waktu. Anda dan anak bisa menentukan sendiri misalnya kapan akan mengikuti ujian UAN kesetaraan seperti Paket C. Berbeda dengan UAN reguler yang hanya sekali setahun dilaksanakan, UAN kesetaraan ini dilaksanakan dua kali setahun. Dalam kasus anak saya tadi yang divonis tidak naik ke kelas 3 SMA justru dia mengejar ujian UAN Paket C di bulan oktober tahun yang sama. Karena dia lulus UAN pada bulan desember semua temannya malah baru akan masuk semester VI di kelas 3 dan menunggu 4 bulan lagi untuk ikut UAN dan belum tentu lulus. Sekarang ketika teman-temannya masih sibuk cari sekolah dan ujian, dia sudah 3 bulan yang lalu diterima di Binus.

Anak saya yang bungsu juga mengalami tekanan dari gurunya di kelas 4 sehingga nilainya jatuh di semester akhir dan sampai diancam tidak naik karena dianggap nilai perolehan tidak tuntas versi kurikulum RSBI (rintisan sekolah bertaraf internasional) dan karena dia beberapa kali sakit cukup lama maka tertinggal dan tidak mengumpulkan tugas. Padahal waktu kelas 3 dia ini masuk ranking belasan serta kurikuler dia justru juara seperti lomba presentasi dll. Namun prestasi ini tidak pernah diperhitungkan guru dan sekolah karena mereka hanya peduli target RSBI.

Akhirnya saya putuskan si bungsu untuk keluar & memulai HS dengan pembimbing saya sendiri (oh iya saya single parent) untuk pelajaran pilihannya (sains, TIK, ilmu pengetahuan umum, sejarah sekaligus kebangsaan dan agama) dibantu guru les untuk mata pelajaran UAN paket A sd (bahasa indonesia dan inggris serta matematika). Selain itu dia ingin belajar musik dan fotografi serta berenang 🙂 target dia hanya satu: ikut UAN tahun depan berbarengan dengan kakaknya yang sekarang kelas 6 supaya bisa SMP sama-sama. Kakaknya sendiri adalah anak periang yang sangat menikmati sekolah karena kebetulan SD kakak cuma sekolah kampung yang tidak ikut program RSBI, dual language dlsb. Anak-anak tumbuh bebas tanpa beban target berlebihan, PR, tugas pun jarang. Sehingga mirip dengan HS dia punya banyak waktu dan kebebasan berekspresi melalui kegiatan kurikuler pramuka, dokter kecil dlsb serta berprestasi di sana.

Di dalam HS bisa saja kita selaku orang tua membuatkan daftar nilai semacam raport, tetapi ini tidak akan pernah dilihat baik itu untuk urusan melanjutkan sekolah maupun bekerja karena biasanya cukup ijazah serta sertifikat kelulusan UAN. Tetapi apabila kita maksudkan sebagai ‘alat kontrol’ kemajuan belajar anak, tentu ini sah saja. Sedangkan untuk UAN tentu hasil try out bisa dijadikan pegangan. Karena raport tidak harus ada, maka jenjang kelas pun tak diperlukan. Tapi materi sekolah reguler tentu saja bisa kita jadikan/adopsi sebagai rujukan.

Soal waktu, saya belum bersepakat dengan anak, kemungkinannya akan ada batasan minimal berapa jam dia setiap hari harus belajar secara formal. Selanjutnya bebas, sesuai minatnya tadi.

Soal kelompok ada beberapa macam tapi secara garis besar ada dua model:

1. HS secara klasikal di lokasi kelompok, ini sangat mirip sekolah reguler. Atau kelas yg lebih longgar, anak hadir tiap hari tetapi gak mengikuti kelas melainkan belajar secata mandiri, tujuannya di kelompok tentu hanya ingin bersosialisasi.

2. HS secara private, gurunya datang ke rumah sesuai kesepakatan waktu. Kalau anda kesulitan waktu maka metode ini akan sangat membantu. Interaksi dengan anak bisa di akhir pekan.

Keuntungan lain bergabung dengan suatu kelompok adalah dibantu urusan birokrasi misalnya pendaftaran anak ke diknas agar mendapat nomor induk siswa nasional dan didaftarkan ke UAN. Selain itu bisa sharing dengan sesama orang tua lainnya.

Meskipun demikian, anda bebas memilih mau ikut kelompok mana atau HS mandiri.”

**
Saya pikir pendapat rekan saya itu cukup memberikan gambaran, bagaimana homeschooling dijalankan. Tentu saja, pilihan antara mendidik anak dengan cara dititipkan lewat sekolah maupun oleh kita sendiri, masing masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

Tinggal Anda yang tentukan. 🙂

“Homeschooling, ..siapa takut?”

Roy

Sent from my iPad