Jika Anda Diculik Berlakulah Seperti @acidgorgeous

Apa yang membuat saya suka linimasa Indonesia adalah penetrasinya yang menjangkau hingga dijadikan rujukan media utama seperti surat kabar dan televisi. Mungkin hal ini dikarenakan tingkat partisipasi awak media dalam percaturan cicit cuit dunia twitter.

Salah satunya adalah soal penculikan yang melibatkan seseorang dengan akun @AcidGorgeous. Setelah ia tweetkan, linimasa ramai dengan kisahnya, termasuk  kompas telah menurunkan kisah penculikannya secara singkat.

Saya cukup beruntung berteman dengan cukup banyak orang. Tanpa dinyana salah satu teman baik saya adalah keluarga dari @AcidGorgeous (Acid) ini.

Hal apa yang menarik dari penculikan ini ?

Selain dari kronologi kisah yang telah secara baik dan runut diceritakan oleh Acid, bagi saya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan menarik agar dapat menjadi pelajaran bagi kita semua.

Mengapa Penculik meminta uang tebusan hanya Rp.30juta (tigapuluh juta rupiah) saja.

  • Padahal, dengan cara mengeluarkan Acid dan teman prianya dari mobil jazz yang dikendarai, Penculik tidak perlu repot-repot berubah status menjadi “penculik” dan cukup pada posisi  “perampok” saja. Harga sebuah kendaraan jazz, pasti gampang dijual lebih dari 30juta rupiah.
  • Padahal dengan menculik dua anak manusia seharusnya penculik bisa meminta uang tebusan minimal sebesar Rp. 100 juta. Mengapa tidak dilakukannya?

Analisis saya adalah bahwa apa yang dilakukan oleh sekelompok orang ini sudah sungguh terencana dan memiliki segmentasi yang fokus, antara lain :

  • diketemukannya catatan kecil dalam dompet pelaku yang tertangkap:

hari pertama, sewa mobil. hari kedua, beli lakban. dst.

  • dalam hp pelaku diketemukan tulisan sebagai bentuk komunikasi pesan pendek. “Ada bahan bagus”.
  • pelaku telah membidik korban sejak korban berada di pusat perbelanjaan.

Penculik paham bahwa yang mereka cari adalah  uang cash/tunai yang gampang diperoleh dan tidak perlu melakukan hal lain misalnya menjual lagi apalagi yang diambil adalah kendaraan. Hubungan antara penculik dan korban selesai begitu uang diterima. Penculik juga paham, semenjak di pusat perbelanjaan Acid dkk terlihat dan terkesan memiliki uang atau setidaknya akses uang sebesar Rp.30 juta.

“Cepat, kamu hubungi temen kamu aja, 30 juta cepet!”,

salah satu penculik mengatakan pada Acid. Perampok yakin bahwa Acid dan temannya memiliki uang sejumlah itu di tabungannya, sehingga sekali tarik dan atau andaikanpun  meminnjam uang temannya akan gampang diperoleh.

Uang sebesar Rp. 30 juta bagi penculik itu adalah nilai batas psikologis bagi korban memiliki kemampuan menyediakan dengan cepat. Penculik telah mengikuti korban dari pusat perbelanjaan, ke rumah korban, antar temannya di daerah Ampera, lalu pada saat yang menurut mereka tepat yaitu  di jalan Brawijaya penculik melakukan aksinya.

Mobil Avanza dengan jumlah 10 (sepuluh) orang berhenti tepat didepan Jazz Acid. Perawakan mereka kecil, tidak setegap pihak polisi sebagaimana mereka ingin dikesankan. Mereka mengenakan jaket hitam, pistol (entah pistol mainan yang baru saja dibeli di Ancol, atau pistol betulan) . Mobil Jazz dipepet dan dipaksan minggir dan mau tidak mau berhenti.

Penculik bisa saja meminta uang hingga Rp. 100 juta. Tapi bukan itu yang mereka pikirkan. Mereka telah menetapkan. Nilai yang tidak terlalu signifikan namun memitigasi risiko dengan cara meminimalisir pihak yang mengetahui proses penculikan ini. Rp.100juta, jika penculik memintanya setelah melihat rumah korban, sah-sah saja. Sangat mungkin.  Tapi dengan 30juta, harapan mereka hanya empat-lima orang yang mengetahui penculikan ini. Tuntas.

Saya sempat bersenda gurau dengan teman saya, mengapa dalam catatan kecil pelaku yang tertangkap, sewa mobil dilakukan tidak sekaligus membeli lakban. Mengapa? bukankah itu hal yang mudah?

Tidak. Saya pikir sepuluh orang tidak semuanya paham dan mengetahui strategi penculikan dan skenario besarnya. Mereka ada yang hanya orang suruhan. “Besok kamu sewa mobil”. “Besok kamu beli lakban“. Mereka lebih seperti “buruh harian”. Bukan otak. Hanya kaki tangan.

Selain itu ada kata-kata dalam pesan singkat di HP: “ada bahan bagus“, dari penculik yang tertangkap kepada entah siapa. Mungkin ini adalah semacam proposal atau bentuk konfirmasi. Ia masih butuh legitimasi untuk mengeksekusi. Minta persetujuan. Ada kriteria tertentu yang ditetapkan dan perlu dilaporkan untuk selanjutnya diputuskan oleh Pemimpinnya. “Kamu ikuti terus!”

Menurut saudara dekatnya, Acid adalah profil anak gadis metropolis. Ia anak bungsu. Gayanya bossy. Suka belanja-belanji dan hahahihi. Bagi sebagian pelaku, karakter ini mudah ditandai. Terkesan memiliki banyak uang, penakut, jika dituduh terlibat narkoba maka lebih baik damai saja, dan lain sebagainya. Profil Acid inilah sasaran mereka selama ini. Perempuan, dibawah usia 30-an, bersama teman, berkelas, dan terlihat memiliki banyak uang.

Ternyata Penculik salah terka

Apa yang membuat penculikan ini tidak berjalan mulus?

Acid adalah generasi masa kini. Setelah dirinya dipisahkan dari temannya usai diculik, ia berpikir keras. Teman lekakinya diborgol. Pisah mobil. Tahu temannya dipukuli, dan itu adalah salah satu cara Penculik meyakinkan Acid, ini bukan main-main. Ada serangan psikologis di sini. Acid bimbang. Ini polisi atau orang jahat. Acid tidak menyerah.

Setelah para penculik dan korban yang keliling kota dalam dua mobil dan mencari kamar hotel kesana-kemari namun tidak diketemukan karena semuanya penuh, rombongan pelaku dan korban berhasil menemukan sebuah penginapan, di daerah Pulomas. Mereka sewa dua kamar. Dipisah. Korban, temannya terus-menerus dipukuli. Acid tidak menyerah. Ia tahu ada yang tidak beres. Keluarganya berasal dari keluarga dengan budaya hukum yang kuat. “Ada yang salah ini’, di benaknya. Ia pun sering menonton film beraneka genre, termasuk seribu satu kisah kekerasan, penculikan dan hal menakutkan lainnya, yang membuatnya menarik satu kesimpulan pasti:

INI PENCULIKAN. SAYA HARUS LOLOS.

Bagaimana caranya?

adalah kalimat yang terus berkelebat di benaknya. Ia harus mencari cara. “Pikiran nakalnya” muncul.

Ia sampaikan kepada para penculik:

  1. Saya depresi. Saya agak gila dan butuh obat penenang.
  2. Saya Diare.
  3. Saya memiliki kartu kredit. Sedangkan kartu ATM saya kosong dan tak ada uangnya (ini memang benar karena saat bersama-sama ke ATM tidak ada banyak uang di tabungan Acid)

Ini adalah cara Acid memperpanjang waktu. Saat itu hampir dini hari. Malam minggu yang akan menjadi minggu pagi. Ia merindukan sinar matahari. Mencari orang yang dapat menyelamatkan dirinya. Petugas hotel, orang lalu-lalang atau siapapun sehingga ia bisa berteriak, meminta tolong, atau berlari dan bebas.

Maka, ia pun meminta untuk diantarkan ke apotik untuk membeli obat gilanya. Ia juga membujuk bahwa  pagi-pagi sekali bisa bersama-sama ke toko emas, dan ia akan membeli dan membayar menggunakan kartu kreditnya.

Maka diantarlah ia ke Arion, sebuah pusat perbelanjaan di Rawamangun Jakarta Timur. Ia meminta penculik untuk makan sejenak. Penculik, tidak semuanya otak penculik, sebagian otaknya adalah otak pekerja yang hanya menuruti perintah boss penculik. Maka, ia pun diperbolehkan makan.

Dikelilingi 3 pria pelaku, ia makan di McDonald. Saat di restoran siap saji Acid memberi kode kepada petugas, bahwa dirinya diculik.

Tapi bayangkanlah situasi ini:

Sebut saja Tono, petugas Mc Donald.  Ia bekerja bagian shift malam dari pukul 9 malam hingga jam 8 pagi. Ia tidak bermalam minggu.Dari kos-kosan yang dilakukannya dan dipikirkannya adalah bekerja, pulang, tidur dan menyiapkan diri di minggu malam menonton final Piala Eropa. Rencana yang indah. Tapi malam hampir dinihari itu dan sudah dini hari bahkan, ada wanita dengan tiga pria duduk di meja pembeli. Si wanita membeli sesuatu, dan membisikkan sesuatu: “Saya diculik… ssst..saya diculik”. Belum sempat mencerna, ia disapa oleh salah satu dari tiga pria itu: ” Mas, jangan dengerin, mbak ini gila.”.

Tono tidak salah terka. Hidupnya di Jakarta dengan banyak problematika dan kebanyakan hal irasional, tiba-tiba diberikan situasi seperti itu. Ia memilih posisi aman dan bebas tugas: mempercayai pria yang bilang wanita itu gila. “Mbak ini ada ada saja”.

Acid tidak patah semangat. Ia berteriak. keras, kencang. Ia menghampiri petugas keamanan. “Pak Satpam, saya diculik. PAK SAYA DICULIK!” Pak Satpam, yang selama ini hanya dibekali cara membekuk pengutil, atau menangkap pencuri celana dalam, susu atau formula, jelas langsung bengong. Pen-cu-lik? Kerja Otaknya berjalan lambat.  Kata-kata itu, yang keluar dari mulut wanita, pagi buta, dan dikatakan oleh teman-teman wanita ini bahwa si wanita gila. Ia diam saja. Pak Satpam, juga memilih posisi aman dan rasional. Perempuan ini gila. Tugas saya hanya jaga pusat perbelanjaan dari pencuri, bukan penculik. Ah, Jakarta. Lelucon apalagi ini.

Tapi sebagian satpam lain memiliki tingkat kekepoan  di atas rata-rata. Ia menemui pihak petugas kepolisian yang kebetulan ada di  sekitar Mol. Diceritakanlah kejadian itu. Polisi tentu saja berbeda dengan satpam. Hal yang benar saja selalu dianggap salah, apalagi hal yang mencurigakan..

“hmm.. ada yang tidak beres itu Pak!”

Maka, Polisi dan satpam mengejar. Satpam lainnya menutup pintu akses keluar. Penculik merasa terancam. Ia bergegas keluar dengan membawa mobil selekasnya. Pintu akses ditabrak, lolos! Mobil pelaku berhasil keluar dari areal pusat perbelanjaan dengan menerobos pintu portal. Tapi apa daya, sebuah bus besar kebetulan ngetem dengan asyiknya tepat di depan pintu keluar. Dua pelaku berhasil lolos. satu orang tertangkap.

Acid bebas. Teman lelakinya yang masih disekap pun bebas. Bisa jadi penculik yang lolos bilang kepada penculik yang masih berada di hotel bahwa korban berhasil lolos dan temannya tertangkap. Korban utama lolos, untuk apa teman lelakinya dipertahankan penyekap. Keduanya terbebas.

Acid Tidak Takut

Jika Anda di posisi Acid akan takut? wajar. Tapi ada kalanya posisi tidak menguntungkan mengharuskan kita berbuat nekat. Acid melakukannya. Ia berlagak gila. Ia membuang-buang waktu. Ia mengaku diare. Ia memberikan opsi membelikan emas dengan kartu kreditnya. Ia paham, korban utama adalah dirinya. Ia memiliki posisi tawar yang baik. Ia melakukan apa yang sudah seharusnya dilakukan. Ia banyak meminta. Ia banyak menuntut. Ia paham penculik butuh dirinya.

Acid, kamu keren!

Salam,

Roy

#dan kepada Pak Polisi, kalian juga keren. Basmi terus sindikat penculikan ini ya Pak…