Pengumuman Lomba Cerpen @Pulkam 2011

Inilah  hasil dari penilaian Dewan Perwakilan Rakyat Juri Lomba Cerpen @Pulkam 2011:

Terbaik Kedua:

“The Lion King” karya
Aulia Rizdha Kushardini.

Kata Juri 1
@gadrasta:

“Butuh
konsentrasi lebih membaca cerita ini. Lompatan alurnya cukup menyiksa. Ia juga
dibangun di masa depan tanpa perbedaan signifikan dengan masa kini. Penokohan dalam
cerpen ini kuat. Dialog yang terjadi menggambarkan “kegelapan” itu
sendiri. Konflik muncul silih berganti: ayah-anak, diri sendiri, dan
kecelakaan. Pembaca mungkin akan keberatan dengan alur waktu berlapis antara
tahun dan jam yang sukar diikuti, tapi penggunaan kalimat pendeknya cukup
memikat untuk tetap menuntaskan cerpen.”

Kata Juri 2
@RoySayur

“Bagus.
Ruwetnya bikin pusing. Saat baca, saya harus bolak-balik memeriksa waktu yang
ditulis oleh penulis. Jika membacanya saja pusing, apalagi saat membuatnya. Ide
dasarnya sih brilian. Konflik keluarga yang terus dicari pangkal dan ujungnya. Atau
jangan-jangan tak ada konflik, masing-masing tokoh dalam cerita hanya malas
saja saling berkomunikasi?

Pembaca
disuguhi permainan logika masing-masing karakter tokoh. Sayangnya, saya masih
pusing hingga sekarang..”

Terbaik Kedua <– Silakan unduh.

Siapa penulisnya?

Aulia Rizdha Kushardini (@humblehappiness) lahir di Mataram, 19 tahun lalu.

Saat ini ia adalah mahasiswa tingkat akhir di jurusan Ilmu Hubungan Internasional, UGM.

Sang Juara:

“Pulang Hari Ini” karya Trisna Wulandari

(Lagi-lagi) kata @gandrasta:

“Whoa! Aku
terpaku sejak pengaruh minang muncul di kalimat kedua. Bacaan penuh pengalaman.
Ini yang aku tunggu dari cerpen pulang kampung: ketika kampung itu sendiri
bercerita. Klimaks akhir cerita sengaja diambangkan begitu saja. Tidak ditemukan
pemaksaan emosi untuk pembaca. Rapi. Aku yakin penulis menyuntingnya
berkali-kali.”

Kata @Roysayur:

“cukup satu
#hestek untuk menggambarkan kesanku pada cerpen ini:  #kemudianhening.”

Terbaik Pertama <– silakan unduh.

Cerpen Pulang Hari Ini ditulis oleh Trisna Wulandari dengan akun Twitter @ulandodol.

Selamat
kepada para pemenang.  Kepada para pemenang diharapkan dapat menghubungi @pulkam di pulkam2009@yahoo.com untuk pengiriman hadiah lomba.

🙂

Selamat.

Bagi Cer-penis lain, jangan patah semangat ya. Nantikan Lomba Cerpen @pulkam lainnya.

Terima kasih.

Iklan

Menjelang Hasil Akhir Penilaian Lomba Cerpen @Pulkam

Cer-penis yang baik,

@GlennMars memutuskan untuk menutup kesempatan cer-penis mengirimkan karyanya di malam minggu tepat, 20 Agustus 2011 yang lalu. Tak ada lagi email yang masuk dari pulkam2009@yahoo.com ke inbox roysayur@gmail.com. Biasanya satu-dua email diteruskan olehnya dan oleh pulkamers yang lain ke email saya untuk saya baca, saya nilai, dan saya hakimi.

Bukan hanya saya. Kapan lagi saya bisa balas dendam pada manusia eksentrik bernama @Gandrasta. Setiap email dari @pulkam saya teruskan lagi kepadanya, untuk ia baca, ia nilai dan ia kebiri.

Memuaskan. Sangat memuaskan.

Cerpen yang masuk akhirnya ada 33 karya. Jika masing-masing cerpen terdiri dari 1500 kata, maka kami telah menandaskan 48.000 kata lebih. Bukan jumlah yang banyak, namun bagi saya itu sudah lebih dari cukup. Saya mabok cerpen, tapi tidak berlaku bagi @gandrasta. Ia sangat menikmatinya. Setiap kata ia teliti, setiap kalimat ia cermati, bahkan anak kalimat ia komentari. Etos kerja yang butuh acungan jempol.

Karya cer-penis mirip Indonesia, beraneka rupa. Ada yang ringan, berat, sederhana, garing, ngasal, hingga yang penuh ketelitian dalam mengungkapkan jalan cerita dan bertutur kata.

Ada yang mengirimkan karyanya langsung dari blackberry dengan alinea dan spasi yang acakadut, namun lebih banyak disampaikan kepada kami dengan format microsoft word. Sebagian lainnya menggunakan format pdf.

Untuk dan atas nama partisipasi dalam berkegiatan di bulan Ramadan hasil karya teman-teman begitu istimewa.

Cara penilaian kami dalam menghakimi cerpen adalah dengan prinsip kehati-hatian. Apakah cerpen tersebut gunakan judul, apakah ada typo, apakah pilihan kosa kata yang digunakan sesuai, apakah kalimat yang dikembangkan efektif, apakah ide cerpen orisinil, apakah menggunakan isu SARA, apakah masuk akal, apakah jalannya cerita menarik, apakah dialog yang dibangun dalam cerpen menjadi kekuatan atau hanya dialog tak perlu yang justru mengganggu alur cerita, apakah proses kreatif dikerjakan dengan kesungguhan hati dengan melalui proses penyuntingan berkali-kali, hingga menghakimi apakah cerpen tersebut sesuai dengan selera kita.

Apapun ceritanya, tetap saja kami tak luput dari sentimen pribadi yang menyukai gaya bahasa tertentu, cara bagaimana kisah dituangkan, uraian dan gambaran penulis mengenai emosi tokoh, hingga prosentase campur tangan penulis untuk membiarkan pembaca menafsirkan jalannya cerita. Semuanya diulas. Semuanya kami bahas hingga tandas.

Juri utama, @gandrasta, menggunakan ukuran penilaian dengan skala 1 s.d 10. Saya tidak sedemikian matematis dan berupaya melakukan kuantifikasi atas masing-masing cerpen. Saya lebih condong sebagai perwakilan dari warga biasa yang disuguhi tukang cerita tentang suasana berhari raya. Saya baca dengan suasana biasa, bukan sebagai juri, hanya seorang pembaca cerpan yang bersiap diri untuk berkomentar setelahnya.

Hasilnya? Dahsyat! Beberapa cerpen begitu memesona.

Tema yang kami pilih memang tepat rasanya. Pulang kampung sangat Indonesia. Setiap penulis memiliki cara, gaya, pendapat dan pengalaman yang berbeda tentang pulang kampung. Semuanya berkesan. Kehangatan suasana lebaran, menular pada kami, khususnya saya.

Maka tunggu saja hasilnya siapa yang kami anggap yang paling baik dari seluruh cerpen yang kami terima. Hari jumat minggu depan, tanggal 26 Agustus 2011 akan kami umumkan pemenangnya. Khusus untuk dua pemenang, cerpennya akan kami muat di blog ini.

Saat ini, saya sedang mencoba menawarkan kepada beberapa pihak apakah ada yang tertarik dengan kumpulan cerpen ini dan dijadikan buku. Itu pun jika para cer-penis setuju. Semoga! Jika pun tak ada jalan ke arah sana, setidaknya kami puas untuk berkesempatan menikmati kisah pulang kampung dengan banyak suasana.

Ada usulan lain untuk mengumpulkannya menjadi sebuah e-book, namun rencana ini harus ditanyakan kembali kepada para cer-penis.

Karya Cer-penis, tetap milik Cer-penis. Kami hanya numpang baca.

Terima kasih.

Sent from my iPad