#Cerpen: “Rama dan Said”

Rama dan Said

dsm09211crvcrp

Untukmu, Sahabat.

TANPA BANYAK PIKIR, Rama langsung masuk kamar mandi setibanya di rumah. Ia mau berendam. Hari ini matahari sangat sombong, apalagi hanya untuk menghadapi bocah 8 tahun seperti Rama, ia hanya butuh mengedip. Akibat kesombongan matahari Rama tidak peduli apapun lagi, yang ia mau hanya berendam. Seragam putih merah itu saja sengaja tak dilepaskan, buatnya melepas pakaian tak mampu mengurangi kegerahannya, isi kepala bocah itu hanya dipenuhi air, air, air, dan adzan dzuhur.

Byurrrr, rama mencemplungkan diri ke bak.

Ibu Rama kaget, ia tak menyadari kehadiran Rama dan langsung memeriksa kamar mandi. Ia berteriak kepada Rama dengan mengucap Istigfar. Ia memarahi Rama banyak, karena tak mengucap salam saat masuk, karena tidak mencium tangan ibunya saat tiba di rumah, karena belum melepaskan seragam bahkan kaos kakinya, karena ia berendam di bak. Rama tidak peduli, yang ia inginkan saat itu hanya mendapatkan kesegaran.

“aku mau minum! Aku haus!”

“kemarin yang mau puasa kaya Said siapa? Kamu kan, lagian satu jam lagi juga dzuhur, nanggung dong,”

“tapi aku haus, bu. Minum aja deh gak usah maka. Said kan udah gede aku masih kecil”

“husshh, gak boleh,”

“tapi, aku gak kuat, bu,”

“yaudah kamu disitu aja dulu, nanti kalo udah adzan baru boleh minum. Tapi, bajunya dilepas dulu.”

Hari ini hari pertama anak kelas 2 Sekolah Dasar itu puasa, sedangkan satu jam menuju adzan dzuhur ia habiskan berendam di bak mandi.

***

SAMBIL TERGESA-GESA Said mempersiapkan perjalanan pulang di kamar asramanya untuk keperluan diri selama bulan Ramadhan yang dimulai esok. Ia membawa satu tas mendaki gunung 60 liter berisi pakaian kotor. Hal ini bisa dimaklumi karena said memang tidak suka mencuci pakaian di asrama sedikit-sedikit, ia biasa mencuci pakaian satu bulan tiga kali, ia sengaja menumpuk pakaian kotornya, karena lebih suka melakukan pekerjaan sekaligus. Sebenarnya, pakaianya juga tidak terlalu banyak. Ukuran standar mahasiswa yang jauh tinggal dari rumah yang suka memakai satu set pakaian untuk beberapa hari. Ia membawa baju agar bisa dicuci di rumah, kegiatan mencuci di rumah memang lebih mudah berkat mesin cuci dan lebih bersih karena di asrama ia hanya merendam baju dan sedikit menguceknya, kemudian dijemur tanpa disetrika langsung masuk ke kardus yang dibuat menyerupai lemari baju

“jal, gua balik dulu ke rumah, cuci baju, ambil sembako, gua pinjam motor lu ya,”

“lama gak? lu kapan balik ke sini lagi?”

“nanti malam sebelum sahur juga udah sampe,”

“yag bener lu, lu mau nyuci kan?”

“iya bener, Bogor Bekasi dibawa ngebut cukup sejam, jal. Gua pengen taraweh di rumah,”

“yaudah bawa logistik yang banyak ya, kunci sama STNK ada di laci, helm ada di depan deket rak sepatu,”

“sip, lu ada titipan, gak”

“bawa minyak goreng aja yang banyak sama gula. Lumayan buat ngangetin makanan bekas buka,”

Said bergegas menuju parkir asrama, setelah 15 menit memanaskan motor, ia kembali ke kamar berpamitan kepada Rizal teman satu kamarnya. Dan langsung mengendarai motor menuju rumah.  Said sebenarnya sedikit membohongi Rizal, jarak tempuh asrama kampus ke rumahnya memang mampu ditmpuh dalam waktu satu jam dengan kebut-kebutan, tapi ia bukan seorang pengendara motor ugal-ugalan seperti itu, malah ia sering diledek kawannya bila membawa motor seperti siput

***

DUK DUK DUK DUK, adzan maghrib berkumandang untuk wilayah Bekasi dan sekitarnya, sementara Rama sudah kegirangan di ruang keluarga untuk makan, sembari melantangkan suaranya menirukan adzan. Ia mengambil piring dan sendok segera sambil mebenturkan dua benda tersebut untuk mebuat kegaduhan. Ibu dan ayahnya menyuruhnya untuk tidak berisik, dan berdoa terlbih dahulu sebelum makan.

Dengan tidak sabar Rama langsung menggasak centong untuk menyeedok nasi namun langsung dihentikan ibunya, kata ibunya yang tua harus didahulukan. Mendengar ibunya, Rama pajang muka cemberut sementara ayahnya, hanya tersenyum. Ibunya sengaja mengulur-ngulur meledeki Rama, Rama yang mengerutkan muka hanya terus menerus minum es teh manis, tiga gelas ia habiskan. Bocah ini memang tidak habis-habis rasa hausnya. Padahal ia sudah menghabiskan waktu berendam selama tiga jam: satu jam setelah pulang sekolah, dan dua jam menunggu adzan maghrib. Tapi kegerahannya tak juga mampu diatasinya.

Rama yang tadinya bersemangat makan malah tidak makan nasi beberapa suap akibat kembung perutnya. Ibunya bersikukuh untuk lebih banyak makan biar esok puasa ia tidak banyak mengotori bak mandi akibat dijadikannya bak mandi untuk berendam. Tapi bocah ini tetap tak menggubris tumpukan nasi yang masih banyak di piringnya.

“nanti aja makannya pas sahur, aku buru-buru mau taraweh, bu,”

“ini kan masih jam setengah tujuh,”

“iya tapi bentar lagi Said samper aku,”

Tak lama suara Said terdengar memanggil di depan rumah Rama. Rama yang Nampak tak bertenaga sebelumnya langsung melompat mengambil sarung, dan peci. Suara Said masih terdengar memanggil Rama, “Rama, Rama, Taraweh yuk,” ujar Said keras-keras. “Iya sebentar aku minta uang dulu.”

Di perjalanan menuju masjid, kedua anak itu berlomba lari siapa yang lambat sampai di masjid harus beli petasan. Rama yang berumur lebih muda dari Said agak kelimpungan mengejar kecepatan Said. Tak habis akal, sembari lari ia menggulung sarungnya dan menyabet Said, namun jarak mereka yang terlalu jauh tak mampu dijangkau sarung Rama.

“Aku menang, kamu beli petasan,”

“ah curang kamu kan lebih tua, jadi tenaganya lebih banyak,”

“kamu yang curang pake sabet-sabet aku,”

“iya aku beli,”

“hahahaha, akulah pemenangnya. Yaudah ini uangku buat kita beli makaroni aja, ya,”

Mereka menunggu waktu Isya dengan bermain sabet-sabetan sarung, melempar petasan sambil bersembunyi di pohon-pohon besar di sekitar masjid, juga dengan menikmati makaroni gopek’an. Namun, petasan yang mereka beli tak semuanya dihabiskan. Mereka sepakat untuk menggunakannya untuk nanti pagi selepas salat subuh.

“nanti, kamu samper aku lagi ya, id. Jadi petasannya aku pegang,”

***

SESAMPAINYA DI RUMAH selepas pulang taraweh, Said langsung menuju halaman belakang rumahnya memeriksa jemurannya sudah kering atau belum. Dalam hati ia bergumam untung hari ini tidak hujan. Walau begitu, jemurannya tetap belum kering. Tapi ia memperkirakan sebelum jam 12 malam jemuran ini sudah bisa dibawa, angin yang berhembus lumayan kencang lumayan mangeringkankan bajunya.

Sembari menunggu jemurannya kering, Said berniat membeli sembako keperluan di asrama nanti. Ia kemudian membuat daftar belanjaan, dan langsung bergerak menuju wagung terdekat setelah terlebih dahulu meminta uang kepada ibunya. Warung yang dituju Said dekat denga rumah Rama, sahabatnya. Ia berniat sekalian mampir ke sana,

“ah tapi sudah malam, lagi juga rumahnya sudah pada mati lampunya, belakangan Rama memang sibuk,”

“bu, Rama gak kesini?” Said bertanya kepada ibu warung saat tiba di warung,

“gak, id. Tuh liat aja udah pada mati lampunya,”

“ohhh, iya bu,”

“udah pada tidur kali. Belanjanya segini aja?”

“iya,”

Said lama berbincang dengan ibu warung, maklum ini tampat mainnya sejak kecil dahulu. Saking asiknya, tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas, Said harus bergegas kembali ke rumah untuk angkat jemurannya, sekaligus mempersiapkan bekal yang ingin dibawanya.

Sesampainya di rumah ternyata jemuran yang ditunggu belum juga kering, ia nekat mengambilnya dan memasukkannya ke tas. “kalo telat bisa bahaya nih, si ijal bisa kagak sahur,” hati Said berkata. Untuk menghemat waktu ia juga memasak beberapa makanan jadi supaya sampai asrama tak lagi perlu memasak. Pukul setengah satu, semua beres. Said siap berangkat kembali ke asrama dengan bawaan yang lebih banyak satu tas 60 liter ia isi dengan pakaiannya setengah kering yang makin berat, satu tas lagi ia kenakan di dada berisi sembako, ditambah satu buah tabung gas 15 kilo di depannya. Said berangkat.

 

***

 “makan yang banyak sahurnya, Ram, biar besok puasanya gak batal, ya,”

“ih aku kemarin gak batal puasanya, ibu enak aja ngomongnya,”

“iya gak batal karena makan atau minum, tapi gara-gara berendem kelamaan, kata ibu kamu malah sampe ketiduran di bak mandi,”

“ya aku kan masih kecil, ayah, jadi gapapa,”

Kedua orangtuanya hanya tersenyum melihat tingkah polah anak pertamanya ini,

“besok buka puasanya setengah satu ya, tambah setengah jam, oke,”

“yaudah berarti aku lebih lama berendemnya,”

Kedua orang tua muda itu kembali tertawa. Selesai makan, Rama langsung ambil sarung, ia berniat menghabiskan sisa petasan tarawehnya bersama sahabatnya, Rama, tapi setengah jam ditunggu suara Said tak kunjung juga terdengar. Ibu Rama menyuruh untuk gantian mengajak Said untuk salat subuh. Tapi Rama enggan, alasannya, Said sudah berjanji untuk ke rumahnya untuk mengajak salat subuh.

“petasannya kan ada di aku, jadi pasti Said harus datang ke sini.”

 

***

Sewaktu salat subuh di kampus, ponsel Rama terus menerus berdering, ia lupa mematikan nada ponselnya. Walaupun yang salat berjamaah di kampus saat itu sedikit, namun bunyi ponsel Rama tetap menganggu jamaah lainnya. Tapi Rama tetap menunggu salat selesai. Setelah selesai, Rama keluar masjid, memeriksa siapa yang sejak tadi menganggu salatnya. Tak lama ponsel said kembali berbunyi.

“astagfirullah, bu, ini kan waktu salat subuh,”

“Ram, cepet pulang, cepet pulang,”

“istigfar bu, istigfar, ada apa?

“Said, ram, Said,”

“kenapa Said?

Ibu rama tak langsung menjawab, ia malah terisak keras.

“kenapa Said, bu”

“Said sudah dipanggil, ram”

“maksudnya?”

“Said meniggal barusan di perjalanan ke Bogor,”

Rama meyakinkan dirinya bahwa sahabatnya dari kecil tidak buru-buru meninggalkannya, ia berpikir mungkin saja ibunya sedang bercanda untuk menyuruhnya pulang. Rama memang lebih sering tinggal di kampus selama kuliah, ia aktif di salah satu organisasi kampus. Memang ibunya sering menyuruhnya pulang setiap minggu. Namun, biar Rama agak ragu, ia tetap kaget dan berkeinginan pulang saat itu juga.

Sesampainya di gang rumahnya, ia benar-benar terhentak melihat banyak bendera kuning, ia langsung menuju rumah Said yang memang sudah banyak dikerumuni tetangganya. Said meninggal akibat kecelakaan motor, ibu Said menceritakan bahwa dalam perjalanan ke Bogor ia banyak membawa muatan di motornya, ditambah ia yang belum tidur sejak datang sore kemarin ke rumah. Ia tetap tak percaya sahabatnya lebih cepat dirindukan Tuhan. Ia tak percaya, tak percaya. Ibu warung yang sebelumnya bertemu Said memberitahu Rama, bahwa saat belanja sembako Said sempat menanyakan Rama dan bercerita masa kecil Rama dan Said.

“id, harusnya sekarang kita sedang main petasan, sambil sabet-sabetan sarung, kan” rama berbicara dalam hati.

“Id gua udah pulang, dan nanti malam lu harusnya samper gua taraweh, kaya kita kecil dulu”

Rama diam.

“jadi, gak ada lagi yang samper gua taraweh? Gak ada lagi si kalah yang harus beli petasan? Gak ada lagi lu telat samper gua salat subuh gara-gara lu yang kekenyangan? Gak ada lagi lu, id?”

 

 

BIODATA DIRI

 

Nama                                       : Anggar Septiadi / @anggarseptiadi /Mahasiswa jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu sosial UNJ

 

 

Advertisements

Author: roysayur

Karena sayur begitu ngeRoy!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s