#Cerpen: “Memori” – Debi Dwiningsih

Berikut ini adalah cerita pendek karya Debi Dwiningsih yang kemarin dikirimkan kepada @pulkam sebagai bagian dari kegiatan sayembara menulis cerita pendek.

Selain para pemenang yang jumlahnya 8 karya, masih lebih dari ratusan cerpen yang masuk ke dewan juri yang sayang sekali jika tersimpan tanpa pernah dibagi kepada khalayak, karena secara kualitas karya tersebut tidak kalah dengan karya pemenang. Oleh karena itu secara berkala cerpen-cerpen “beda-beda tipis ini akan “dimuat” disini.

Selamat menikmati.

—–

aboutworkingmemory

Memori

“Adzan tuh adzan. Selamat berbuka ya kamu”.

“Alhamdulillah. Makasi ya, selamat berbuka”.

“Kamu lucu ya kalo lagi makan bubur sumsum. Kayanya enak banget”.

“Emang enak tau. Aku suka banget bubur sumsum. Apalagi kalo dimakan pas buka puasa, makin kerasa enaknya. Hari ini aku tuh udah ngebayangin bubur sumsum daritadi siang. Coba deh kalo kamu jadi aku, kalo puasa tuh ya Ko, maunya macem-macem. Bener deh”.

“Hehe. Hebat ya kamu bisa tahan ga makan dari subuh sampe maghrib gitu, padahal kan kamu tukang ngemil”.

“Harus! Ko, mau shalat. Aku lupa bawa mukena, ke Masjid yuk Ko”.

“Yuk aku anter. Abis itu kamu mau makan di mana? Kan tadi kita belum beli makan”.

“Hmm, pikirin entar. Yang jelas sekarang kita ke Masjid, aku shalat Maghrib, abis itu tergantung mood kita mau makan apa, setuju?”.

“Kamu banget nih tergantung mood, hehe. Yuk berangkat”.

Ditya melamun sore itu. Ingatannya melayang ke peristiwa tujuh tahun silam saat Ia masih kuliah di Universitas Padjadjaran, Bandung. Selama kuliah Ia tinggal di sebuah kosan di daerah Dago Asri. Kamar kosnya yang terletak di lantai tiga memiliki balkon sendiri. Walaupun tanpa penyejuk ruangan, kamar kosnya tidak terasa panas karena udara Bandung yang sejuk. Ia ingat, betapa bahagianya ia selama menjalani masa-masa kuliahnya di Bandung. Memiliki teman-teman dekat yang baik yang saling merawat jika ada yang sakit dan saling belajar bersama jika tiba masa-masa ujian. Keakraban ini mungkin terjalin karena mayoritas dari temannya adalah mahasiswa yang merantau untuk kuliah di Bandung, pikirnya. Merasa senasib, seperjuangan, sepenanggungan.

“Bu, hari ini kita mau bikin cupcake rasa apa?”.

Pertanyaan seorang anak berusia empat tahun membuyarkan lamunannya.

“Shakira, bikin Ibu kaget. Shakira maunya rasa apa?”

“Coklat! Tapi Abah suka ga ya Bu?”

“Abah pasti suka kok kalo Shakira yang bikin. Yuk sini bantu Ibu”.

“Shakira tanya Abah dulu deh ya Bu, Ibu jangan mulai kalo ga ada Shakira ya”, ucap Shakira sambil berlari berteriak mencari Abahnya.

Ditya melihat punggung Shakira kecil yang berlari dan berteriak memanggil Abahnya. Semakin lama semakin menjauh suaranya. Shakira kecil yang sedang berlari sudah tidak tampak lagi dengan matanya ketika anak berumur empat tahun itu menyelinap masuk ke kamar tidur Abahnya. Entah kenapa, hatinya terasa damai, terasa tenang. Senyum kecil tersungging di bibir Ditya. Keluarga kecilnya selalu membuat dia merasa nyaman dan selalu membuatnya ingin cepat pulang jika berada jauh dari rumah.

“Kamu lucu ya”.

“Lucu kenapa? Aku ga ngelawak”.

“Gapapa, kamu lucu aja. Aku suka deh ngeliat kamu doa abis shalat kaya gitu”.

“Kenapa emangnya?”

“Lucu aja. Hmm, syahdu keliatannya”.

“Ya, namanya juga berdoa sama Tuhan. Kamu juga kalo lagi berdoa pasti khusyuk kan?”

“Iya sih, hehe”.

“Ko, kamu ngerasa ada yang aneh di hubungan kita ga sih?”

“Ga ada yang aneh. Kita saling sayang kok. Udah deh kamu ga usah mikir yang aneh-aneh”.

“Iya Niko, kan aku cuma nanya, galak amat”.

“Aku ga suka ya kalo kamu mikir yang aneh-aneh tentang kita. Apapun itu. Ga usah dipikirin. Jalanin dulu aja”.

Lagi. Ditya melamunkan percakapan tujuh tahun silam. Tujuh tahun silam saat dia masih kuliah di Bandung dan memiliki pacar bernama Niko. Ditya dan Niko sebenarnya sama-sama tinggal di Jakarta. Selama di Bandung, Niko bersama dengan lima teman SMA nya mengontrak satu rumah di daerah Cisitu. Cisitu terletak tidak terlalu jauh dari Dago Asri. Sekitar lima belas menit bersepeda, Ditya sudah sampai di kontrakan Niko. Ditya dan Niko berkenalan ketika menjalani ospek jurusan. Ditya dan Niko berteman biasa saja pada awalnya. Banyak menghabiskan waktu berdua untuk mengerjakan tugas membuat Ditya dan Niko saling akrab dan saling memahami, dan akhirnya saling menyayangi.

“Ibuuuu, Abah mau kok coklat! Kita bikin cupcake coklat ya Bu!”.

Shakira kecil dengan suaranya yang lantang lagi-lagi membuyarkan lamunan Ditya.

“Iya sayang, yuk sekarang kita mulai bikin cupcakenya. Shakira mau bantu Ibu kan?”

“Mau Bu mau! Ayo ayo! Biar nanti pas buka puasa Abah sama Ibu bisa makan cupcake nya”.

“Loh, Shakira ga mau makan cupcake juga pas buka puasa?”

“Mau dong Ibuuuu. Tapi kan Shakira puasanya setengah hari. Abah juga bilangnya Shakira masih latihan puasa, makanya Shakira bilangnya Ibu sama Abah yang buka puasa”.

“Oohh, haha. Pinter ya kamu sayang. Ngobrol terus gimana cupcakenya mau mateng nih? Yuk mulai sekarang ya bikin cupcake nya”.

Ditya dengan sigap menyiapkan segala bahan untuk membuat cupcake. Shakira kecil sesekali membantu Ditya mengambilkan mangkuk, menuangkan tepung terigu dan menambahkan beberapa sendok gula sesuai instruksi Ibunya. Ditya yang memang hobi memasak sangat menikmati kegiatannya sore ini bersama Shakira. Candaan-candaan sesekali menyertai kegiatan mereka di dapur. Shakira didampingi oleh Ditya memindahkan adonan ke mangkuk cetak.

“Nah, kita ovenin dulu ya kuenya. Shakira sekarang main dulu gih. Tapi jangan di kamar Abah ya, Abah lagi ngaji soalnya”.

“Iya Bu. Ibu, kalo cupcake nya udah mateng, jangan makan duluan ya! Tunggu Shakira”.

“Iya sayang, lagian Ibu kan puasa. Ibu baru bisa makan cupcake nya ya pas Maghrib”.

“Oiya, hehe. Dahhh Ibu”, ujar Shakira sambil berlari ke kamarnya.

Ditya segera membersihkan dapur yang berantakkan setelah dia membuat cupcake bersama putri kecilnya. Dibukanya kran air untuk mencuci segala perangkat yang digunakan untuk membuat kue. Satu per satu perkakas itu disabuni dan dibilas.

“Ditya, kita udah pacaran satu tahun lebih dikit”.

“Yoih. Hebat ya!”

“Hebat. Dengan segala perbedaan kita, kita hebat”.

“Kamu kok ngomongnya gitu sih? Kan kamu yang selalu bilang kita beda, ga usah dengerin kata orang, jalanin aja dulu dan sebagainya dan sebagainya”.

“Dan kamu yang selalu khawatir, selalu ngomongin perbedaan-perbedaan kita, selalu mikir yang jelek-jelek tentang hubungan kita”.

“Lah, apa yang aku omongin kan kenyataan. Kita emang beda. Menurut kamu aja tuh aku ngomong yang jelek-jelek, padahal aku ngomongin kemungkinan-kemungkinan hubungan kita ke depannya. Prepare for the worse”.

“Udahlah Ditya. Aku mulai gerah. Sampai kapan pun kita beda. Dan itu masalah. Masalah buat kamu.”

“Emang ga masalah buat kamu? Emang keluarga kamu gapapa kalo tau ternyata aku ini apa?”

“Ya makanya aku bilang. Kita ini beda. Sampai kapan pun kita beda. Sampai kapan pun kamu akan tetap Islam dan sampai kapan pun aku akan tetap Katolik. Kita beda”.

“Kenapa kamu baru ngomong kaya gini sekarang? Setelah kamu nyuruh aku untuk nutup mata soal perbedaan dan jalanin aja dulu hubungan sama kamu? Kenapa?”

“Karena sekarang aku baru sadar. Sampai kapan pun perbedaan kita masalah. Masalah buat kamu. Masalah buat aku. Kamu Islam, aku Katolik. Sampai kapan pun. Ga akan berubah. Mungkin hubungan kita emang ga bisa lagi diterusin, tapi satu hal yang bisa kamu inget, kita belajar banyak dari hubungan ini. Semoga nanti, kita bisa bahagia dengan pasangan masing-masing yang sesuai dengan agama kita masing-masing”.

Lagi, Ditya termenung. Sambil mengusap-usap peralatan memasak dengan spons dan sabun hingga berbusa, pikirannya melayang ke percakapan mereka tujuh tahun silam. Bandung. Tempat semua peristiwa menyenangkan sekaligus menyakitkan yang dia jalani bersama Niko. Annisa Syahditya dan Nikolas Pratama. Dua manusia yang saling menyayangi yang pada awalnya berusaha menutup mata atas segala perbedaan yang ada. Mereka akhirnya harus menyerah pada realita dan merelakan apa yang telah dibina.

“Hmmm, cupcake nya wangi banget. Pas banget nih aku keluar kamarnya. Bentar lagi Maghrib terus cupcake nya udah mau mateng ya? Apa udah mateng?”

Suara seorang pria yang sangat akrab di telinga memecah lamunannya.

“Eh, iya nih, tadi masak sama Shakira. Tolong dong keluarin kuenya dari oven. Pelan-pelan ya, panas banget loh”.

“Iya sayang. Shakira nya mana sekarang?”

“Di kamarnya, main. Aku suruh main sendiri, abis tadi kan kamu lagi ngaji, kan?”

“Iya”, ucap pria tersebut sambil mengecup kening Ditya setelah mengeluarkan cupcake dari oven.

Hussein Kaff. Pria yang kini menjadi imamnya. Sudah lima tahun mereka berumah tangga dan telah dikaruniai seorang putri kecil berusia empat tahun, Shakira Almihra. Pertemuannya dengan Hussein merupakan hasil perjodohan. Ditya tidak pernah lagi berpacaran setelah hubungannya dengan Niko berakhir. Ditya terlalu fokus pada karir setelah memperoleh gelar strata satu di bidang akuntansi. Usai kuliah, Ditya bekerja di salah satu perusahaan multinasional di sektor manufaktur. Posisi Ditya yang saat itu menjabat sebagai staff internal audit, menuntutnya untuk bertemu dengan banyak orang dari berbagai departemen dan divisi, salah satunya adalah Bapak Said, selaku Manager Operasional di perusahaan tersebut. Bapak Said yang sangat menyukai sifat Ditya yang ramah ingin sekali menjodohkannya dengan anaknya, Hussein Kaff.

Ditya yang sangat enggan dengan perjodohan pada awalnya menolak dengan halus ajakan-ajakan Bapak Said untuk dipertemukan dengan putranya. Namun akhirnya Ditya menyadari, di usianya yang sudah matang ini, dia membutuhkan seorang pendamping dalam hidupnya. Bayang-bayang Niko terlalu melekat dalam benak Ditya. Hal ini sangat menyulitkan Ditya untuk mengawali hubungan yang baru dengan pria lain. Ajakan Bapak Said pun akhirnya diturutinya. Untuk menambah pertemanan, pikirnya. Ternyata Hussein merasa nyaman dengan Ditya sejak pertemuan pertama. Hussein pun meminang Ditya, tidak lama setelah mereka berkenalan.

Sebenarnya Ditya masih sangat mendambakan sosok Nikolas Pratama. Tapi Ditya menyadari, angannya untuk bersama Nikolas tidak akan pernah terwujud. Dia selalu ingat perkataan Nikolas, sampai kapan pun Ia beragama Islam dan Niko beragama Katolik, dan mereka tidak akan pernah bisa bersatu selama perbedaan ini tetap ada. Dan Ditya ingin bergerak maju. Menutup masa lalu dan mengubur kenangannya dengan Niko selamanya. Akhirnya Ia pun menerima pinangan Hussein.

Namun tak dapat dipungkiri, meski telah bersama Hussein dan mendapati sosok Hussein sebagain suami yang baik, angan Ditya untuk bersama Niko yang telah dikuburnya sesekali mencuat. Seperti sore ini. Ia masih dapat mengingat jelas percakapan-percakapannya dengan Niko tujuh tahun silam. Tujuh tahun bukannlah waktu yang sebentar, apalagi Ditya sebenarnya telah memiliki keluarga kecil sendiri. Namun kenangannya dengan Niko juga tidak dapat dihilangkan begitu saja. Meski kini Ia telah lima tahun berumah tangga, sosok Nikolas Pratama sesekali bertengger setia di benaknya. Dipeluknya Hussein yang telah mengecup keningnya, dibenamkannya kepalanya ke dada bidang Hussein, dipejamkan matanya, bukan untuk menikmati kemesraannya dengan Hussein, melainkan sebagai bagian dari usahanya untuk menghapus ingatan tentang Nikolas yang diam-diam menyita pikirannya sore itu.

-Debi Dwiningsih

21 Juli 2013, 1:26 AM~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s