Izinkan Saya Membela Nunun Nurbaeti.

Hai Tuips,

Terlalu prematur untuk membandingkan putusan hakim terhadap Nunun dan Ariel.

Nunun, tersangkut kasus korupsi, terkena hukuman 2 tahun 6 bulan? Sedangkan Ariel terkena hukuman hingga 3 tahun 6 bulan karena video porno?

Beberapa tweet membanding-bandingkan antara putusan Ariel dan Nunun ini. Patut disayangkan. Bahkan ada yang membandingkan bahwa lebih baik lakukan korupsi daripada lakukan perbuatan yang dilakukan oleh Saudara Ariel.

Ini jalan pikiran yang salah. Keliru. Terlalu Pre-Mature!

Kenapa? Saya beri beberapa alasannya:

  1. Ibu Nunun sudah tua, bahkan dipanggil Eyang Nunun. Bayangkan saja Eyang Nunun adalah ibu dari anda. Bagaimana rasanya? ..Yang jelas dia bukan ibu saya. Waktu kecil, saya biasa ucapkan “NENEN!” sembari berteriak, dan Ibu saya datang menghampiri.  Maka jelas lah sudah Ibu saya adalah Nenen. Ibu anda: Nunun. So, bagaimana rasanya punya ibu dipenjara di usia tua? Jika Anda masih belum ngeh. Anda si Raja Tega!
  2. Nunun itu punya gangguan kesehatan. Ia diduga terkena gejala Dementia apalah gitu. Dari namanya yang rumit, pasti ybs sakit sekali. Selalu hilang ingatan, linglung, lupa diri, susah buang air besar, dan memiliki emosi yang sulit dikendalikan. Mungkin. Dengan adanya penyakit ini, bisa jadi masa penjara 2 tahun 6 bulan yang ia dapatkan dijalani hingga 10 tahun. Ia lupa berapa masa hukumannya. Doakan saja ia kerasan di lembaga pemasyarakatan.

“Papah Ndoro, aku kerasan banget di sini. aku berapa tahun lagi Pah boleh di sini?”

Toh, selain itu vonis ini mencerminkan bahwa Nunun hanya peran pembantu. Ia bukan penikmat sesungguhnya. Beda dengan Ariel. Setelah saya teliti berungkali, saya bisa merasakan bahwa Ariel memang benar-benar menikmati. Beneran!

Selain itu, hukum itu persoalan citarasa. Hukum juga merupakan seni, apalagi soal “putusan”. Ini bukan soal kalkulasi matematis, juga bukan komparasi, karena kita tidak secara penuh mengakui yurisprudensi sebagai putusan yang mengikat.

Biarkan hakim berinovasi. Hakim juga butuh kepercayaan publik. Putusan boleh salah, dan hakim punya keluarga yang butuh dinafkahi. Lewat Nunun hakim bisa jadi memahami bagaimana seorang Ibu harus membanting tulang mencari sesuap nasi, mempertemukan beberapa kepentingan demi MSG (dibaca: demi vetsin). Ibu Nunun itu orang baik. Lihat saja, di sekujur tubuhnya tidak ada tato, dia juga tidak pernah terlihat merokok. Dalam persidangan ia selalu mengenakan kerudung. Ia santun.

Bagaimana dengan Ariel?

Dia itu laknat! Penyebar dunia hitam. Kesalahan utamanya adalah: PAMER. Para hakim bisa mengerti gairah anak muda. Tapi mbok ya seharusnya Ariel tenggang rasa. Kesalahan fatal Ariel adalah ia 21 cm. Kesalahan semi-fatal-nya adalah ia sungguh-sungguh menikmati. kesalahan yang agak fatal tapi sedikit menggangu: sudut kameranya miring. Para hakim sulit menilai perbuatannya bila menyaksikan dengan leher miring. Bikin tengeng!

Begini saja:

Nunun itu istri Wakapolri. Mana mungkin istri penegak hukum berbuat jahat dan tidak sesuai hati nurani, istri mantan Wakapolri lagi. Calon dari PKS lagi! Gila lu Ndro. Ini Polisi, coy! POLISI!

Pe- O-EL-i-Es-i. PO-LI-SI. enggak mungkin polisi itu berbuat jahat. Polisi itu pelayan masyarakat. Polisi itu panutan semua kalangan! Mereka lah tulang punggung bangsa ini.  Mereka tidak pernah menilang secara sembarangan. Mereka adalah Avengers!

Ah sudahlah.

Kalian memang gak ngerti hukum. Susah lah pokoknya!

Hidup Nunun! Hidup Polisi! Korupsi kita basmi, Polisi kita lindungi. Jayalah Hakim Negeri Ini.

Merdeka!

cup cup muah muah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s