Sebagai seorang sufi, ketika diperlakukan tidak hormat dan dikecewakan, yang dilakukan bukanlah membalas, tetapi mengolah luka menjadi jalan pulang kepada-Nya.
Berikut ini beberapa sikap sufistik yang bisa dilakukan:
1. Menahan Ego, Membuka Mata Hati
Sufi tidak melihat penghinaan sebagai serangan terhadap dirinya, tapi sebagai pengingat bahwa “aku” hanyalah ilusi. Yang disakiti adalah bayangan keakuan, bukan ruh sejati.
“Siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”
(Hadis – maknawi, sering dikutip para sufi)
2. Menyikapi Kekecewaan sebagai Takdir Ilahi
Kekecewaan bukan kutukan, tapi kurikulum cinta dari Sang Kekasih. Ia datang bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk melepas segala sandaran selain Dia.
“Jangan bersedih karena manusia mengecewakanmu; mungkin itulah cara Tuhan menarikmu kembali.”
3. Memilih Diam daripada Membalas
Dalam diam, sufi mendengar gema Tuhan. Ketika dibalas dengan hinaan, ia tahu bahwa menjawabnya hanya akan mengotori ruh. Ia memilih sabar, bukan karena lemah, tapi karena mengenal kekuatan rahmat.
“Jika mereka melemparmu dengan batu, lemparkan mereka dengan bunga. Tapi pastikan bunga itu masih harum.”
— (Kebijaksanaan Jalaluddin Rumi)
4. Mendoakan yang Menyakiti
Sufi sadar, orang yang menyakiti sedang tenggelam dalam kabut dirinya sendiri. Maka yang pantas ia berikan bukan balasan, tapi doa agar mereka diberi cahaya.
“Ya Allah, ampunilah mereka. Mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”
— (Doa Isa al-Masih, juga diamini para sufi)
5. Menangis di Hadapan Tuhan, Bukan di Hadapan Dunia
Kekecewaan dilarutkan dalam zikir, bukan di status media sosial. Ia menangis, tapi air matanya tidak meminta simpati manusia, melainkan membuka jalan menuju kasih-Nya.
6. Menganggap Segala Peristiwa sebagai Ujian Ma’rifat
Sufi meyakini: setiap perlakuan buruk adalah latihan untuk memperhalus jiwanya. Bukan musibah, tapi maqām – tingkatan spiritual.
Penutup:
Sufi tidak mengejar kemenangan di mata manusia, tapi keutuhan di hadapan Tuhan. Maka jika engkau diperlakukan tidak hormat, ucapkan dalam hati:
“Hasbiyallāhu wa ni’mal wakīl.”
– Cukuplah Allah bagiku, dan Dia adalah sebaik-baik pelindung.
Tinggalkan komentar