Bulan Puasa: “Saya Tetap Tak Mau Rugi..”

Kira-kira satu dekade yang lalu saya dan beberapa teman pernah membuka warung makan di daerah Gorongan, sekitar kampus UPN di Jogjakarta. Walaupun tidak ikut serta secara langsung untuk menjalankan operasional warung sehari-hari, namun saya selalu mendapat laporan keuangan dan laporan “suasana” warung tersebut.

Ada hal yang cukup menarik dari volatilitas penjualan makanan siap saji di warung itu, terutama di saat bulan puasa. Penjualan naik lebih dari 300% terutama pada saat sahur. Ada yang aneh?

Apa sih yang membuat penjualan sebegitu besar kenaikannya, justru di saat bulan Puasa? Bagi saya ini aneh bin ajaib. Tanpa ragu saya pernah menyempatkan diri untuk sengaja datang dan melihat langsung “ritual” Big Sale ala warung makan di kala sahur.

Takjub!

Hanya dalam rentang waktu tidak lebih dari satu jam, pengunjung berbondong-bondong membeli makanan, berdesakan, dan selekasnya membayar.

Ada yang lupa memakai pinsil alis, ada yang masih memakai piyama, bahkan ada yang masih dengan gelung roll-rollan rambut khas ibu dan remaja putri. Namun mereka punya satu kesamaan: Heboh.

Nasi setengah, pakai rempelo ati, pakai sayur, pakai kornet, tambah puding, tambah jeruk hangat, dan tidak lupa membungkus kerupuk. Ada juga yang sudah memesan dendeng, tak lupa mengambil lauk bandeng, plus tempe, plus telor dadar, plus kutek dan eye shadow jika memang tersedia, akan mereka bawa pulang juga.

Benar-benar aneh.

Belum lagi dari armada layanan katering sahur, yang mana satu orang pegawai warung setiap pagi, dimulai dari jam setengah tiga pagi keliling komplek asrama putri dan putra untuk menghantar nasi plus lauk sesuai paket yang dipesan. Jika tak salah ingat, lebih dari 90 kotak katering dihantarkan setiap paginya. Mantaaaap!

Saya berpikir bahwa manusia tetaplah manusia. Dengan kondisi apapun, kodrat pertama yang ia genggam dan ia pertahankan adalah “bertahan hidup”. Mungkin fenomena ini adalah bagian dari upaya bertahan hidup itu, namun dengan varian yang berbeda.

Puasa menjadikan kuantitas asupan makanan diganti dengan kualitas makanan. Boleh saja makan tiga kali sehari diganti dengan dua kali makan, namun harus bergizi dan lebih “berbobot” dari hari biasa. Jika biasanya makan paha ayam, boleh dong saat puasa saya makan paha dan dada ayam sekaligus. Jika perlu sekalian ceker-cekernya. Toh, makan cuma dua kali.

Ada efek psikologis bagi pelaku ibadah puasa untuk mensubsitusi sekaligus malah menngkomplementer makanan hingga batas atas kemampuan.

Itu pun saya lakukan. Intensitas makan yang berkurang mendapat balasan yang setimpal dengan upaya mendapatkan kenikmatan yang setimpal. Cara paling gampang menambah kenikmatan adalah menambah lauk pauk dan atau sekaligus meningkatkan jenis lauk pauk itu sendiri. Biasa tempe sekarang dendeng. Biasa telor sekarang sate. Biasa memble sekarang parlente.

Tak apa. Tak ada yang keliru menurut saya dari fenomena itu. Toh sebagai penjual saya sangat diuntungkan. THR karyawan dan deviden bagi kami pemilik warung malah makin tambun. Cihuy banget deh. 🙂

Hanya saja, saya jadi sadar bahwa manusia seperti saya tetap belum rela untuk secara sadar mengubah kenikmatan kehidupan banal yang sebegitu materialistik dan hasrat wadag yang begitu gegap gempita, digantikan sementara waktu dengan sukarela mencari kenikmatan spiritual.

Merasa panca indera tertahan, maka di saat diperbolehkan, panca indera itu dimanja habis habisan.

Mungkin saya terlalu dini menyimpulkan demikian. Namun itulah kenyataannya yang terjadi. Coba tengok meja makan kita saat ini, bukankah masih tersaji beraneka rupa makanan yang belum disantap? Coba tengok kulkas, bagaimana tiba-tiba menjadi sesak bagai halte trans jakarta dukuh atas atau harmoni. Sedemikian kerennya kita dan sedemikian kreatifnya kita memanjakan diri.

Ketika jasmani menjadi anak tiri kegiatan rohani, rupanya saya masih tak mau rugi.

Selamat berpuasa. Semoga kita tetap mau berusaha menjadi orang yang bertaqwa.
🙂

Salam,
Roy

Sent from my iPad

Sent from my iPad

Iklan

Karena Tidak Semua Orang Banci ReTweet.

Jika tweet kita disukai pembaca, maka biasanya akan diretweet. Hal ini salah satu hal yang menyenangkan dari media twitter. Ada efek domino, ada efek berlipat ganda, karena kemungkinan besar, dari hasil retweet ini yang bukan follower kita pun ikut menikmati tweet kita. langkah selanjutnya bisa jadi mereka akan tertarik dan follow kita.

Bukan begitu?

Ya. Saya setuju jika hal itu terjadi, asalkan secara “wajar”.

Apa maksudnya?

Begini:
misalnya saya tweet:

“aku dan @sherina saudara seayam lho, soalnya ayamku dan ayamnya pernah kawin.”

lantas, follower saya, misal si @jabrik suka dengan tweet aneh tersebut di atas, dan secara wajar ia akan retweet dengan 2 (dua) cara: retweet tanpa comment dan retweet dengan comment, yaitu:

retweet tanpa comment:

@jabrik RT @RoySayur: “aku dan @sherina saudara seayam lho, soalnya ayamku dan ayamnya pernah kawin.”

atau

retweet dengan comment:

@jabrik: Dudul! 😀 RT @RoySayur: “aku dan @sherina saudara seayam lho, soalnya ayamku dan ayamnya pernah kawin.”

nah, yang aku enggak suka itu jika si @jabrik meretweet dengan cara yang menurutku kurang pas, yaitu:

@jabrik: “aku dan @sherina saudara seayam lho, soalnya ayamku dan ayamnya pernah kawin.”/@RoySayur.

Apa maksudnya?

Iya saya paham, tanda baca garis miring itu dapat diartikan sebagai “via” atau “dari”, tapi kenapa enggak sekalian aja ditambahkan menjadi:

@jabrik: “aku dan @sherina saudara seayam lho, soalnya ayamku dan ayamnya pernah kawin.” (by: @RoySayur)

atau

@Jabrik: “aku dan @sherina saudara seayam lho, soalnya ayamku dan ayamnya pernah kawin.” (oleh: @RoySayur).

Ini mungkin dianggap biasa bagi sebagian orang. Namun bagi saya ini perkara penting. Tweet juga adalah “karya”, yang bisa jadi remeh temeh namun memerlukan daya upaya untuk menyampaikannya dan menjadi sebuah tweet.

Bukan berarti jika tweet kita diretweet lantas otomatis senang. Ada kalanya, retweet pun perlu tatakrama. Bagi saya, retweet dengan hanya menambah tanda baca slash atau garis miring adalah upaya pengingkaran atas sebuah karya.

Halah, gitu aja kok ya dibahas?

Biarin.. :p
karena, tidak semua orang banci retweet.

Demikian.
🙂

Sent from my iPad